Suara.com - Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar pemerintah Indonesia. Dokter Spesialis Paru Siloam Hospitals Makassar, dr. Adrianne Marissa Tauran, Sp.P., menuturkan bahwa kasus TBC cukup bisa disembuhkan walaupun Indonesia menempati peringkat 3 di dunia dalam kasus TBC.
Secara angka ditemukan data terbaru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia bahwa terdapat 11 pasien meninggal karena TBC dalam kurun waktu 1 jam. Ternyata kasus ini lebih besar daripada kasus Covid-19.
"Covid-19 ini adalah penyakit yang disebabkan karena virus. Virus itu sudah kodratnya untuk sembuh sendiri selama daya tahan tubuh baik maka penyakit yang disebabkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya.
Berbeda dengan TBC yang disebabkan oleh bakteri, sehingga harus diobati. Dan TBC tidak bisa sembuh dengan pengobatan herbal," tutur dokter yang akrab disapa Anke dalam keterangannya, Jumat (25/3/2022).
Untuk penderita TBC murni tidak ada pantangan makanan. Hanya saja penting untuk memperbaiki nutrisi khususnya kalori dan protein. Tetapi jika pasien TBC ini menderita kencing manis maka harus dilakukan kolaborasi dengan konsultasi pada dokter gizi dan penyakit dalam.
Untuk pasien TBC harus dilakukan pemeriksaan gula darah dan HIV nya. Hal ini dilakukan untuk skrining agar dapat diketahui apakah pasien menderita kencing manis atau HIV. Sehingga dapat lebih cepat menatalaksana penyakit yang keduanya.
Setelah pasien sudah menyelesaikan pengobatan TB nya akan dilakukan foto thorax lanjutan di bulan ke-6 dan bulan ke-12 serta di bulan ke-24.
"Jadi dalam 2 tahun tetap harus di evaluasi kondisi pasien apakah terjadi kasus kambuhan atau tidak. TBC ini bisa menyebabkan kekambuhan walaupun sudah sembuh. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi dengan baik," ujar Anke.
Tidak dapat dipungkiri bahwa TBC merupakan penyakit menular dan berbahaya. Dengan demikian penting dipahami secara benar oleh masyarakat agar kepedulian terhadap penyakit ini dapat semakin ditingkatkan, demikian pula pencegahannya.
Jika memiliki keluarga atau teman yang mengidap TBC beri dukungan terhadap mereka untuk berobat hingga tuntas. Jangan lupa untuk menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungan
Baca Juga: Masyarakat Takut ke Rumah Sakit Gara-gara Pandemi, Penanganan Tuberkulosis Jadi Terhambat
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI