Health / Konsultasi
Senin, 04 April 2022 | 12:34 WIB
Ilustrasi tuberkulosis. (Shutterstock)

Suara.com - Penyakit tuberkulosis masih menjadi penyakit menular yang mengancam kesehatan masyarakat Indonesia.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut saat ini, diprediksi ada lebih dari 800 ribu orang dengan tuberkulosis di Indonesia. Sayangnya, hanya 500 ribu kasus saya yang sudah ditemukan dan diobati.

Terkait tuberkulosis, Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, mengatakan bahwa untuk bisa mengendalikan tuberkulosis, pengendalian rokok dan tembakau perlu diperketat.

"Angka risiko relatif kejadian TB berhubungan dengan rokok adalah 1,6, dengan interval antara 1,2 sampai 2,1. Diperkirakan di dunia ada 0,73 juta kasus TB se tahun yang berhubungan dengan kebiasaan merokok," terangnya dalam keterangan tertulis, Senin (4/4/2022).

Tuberkulosis (TBC) masih jadi beban di Indonesia. (Shutterstock)

Tjandra mengutip buku Global TB Report 2021 yang menyebut ada lima faktor risiko terjadinya tuberkulosis, yakni:

  1. Kebiasaan merokok,
  2. Kurang gizi,
  3. Infeksi HIV,
  4. Diabetes,
  5. dan konsumsi alkohol.

Bukan hanya meningkatkan risiko terpapar tuberkulosis, merokok juga diketahui memberatkan alias membuat tuberkulosis semakin parah.

"Penelitian yang di publikasi di International Journal of Tuberculosis and Lung Diseases (IJTLD) Februari 2020 menyebutkan bahwa kebiasaan merokok menimbulkan perburukan hasil pengobatan TB dan lebih lambatnya perbaikan pemeriksaan usap dahak dan kultur," tambah mantan Direktur WHO Asia Tenggara ini.

Kabar baiknya, penelitian yang dipublikasi di Jurnal Internasional Thorax bulan Januari 2022 menunjukkan bahwa pasien TB yang berhenti merokok menunjukkan hasil pengobatan TB yang lebih baik

"Jadi pasien tuberkulosis harus dianjurkan berhenti merokok," terangnya.

Baca Juga: Begini Cara Rokok Merusak Mata Hingga Menyebabkan Masalah Penglihatan Sampai Kebutaan

Load More