Suara.com - Osteoporosis selama ini dianggap sebagai penyakit orang tua. Sebab seiring bertambahnya usia, tulang menjadi kurang padat dan lebih rentan patah. Tapi tahukah Anda, masa kanak-kanak berperan besar dalam terjadinya osteoporosis saat dewasa.
Alasannya, massa tulang yang dicapai seseorang di masa kanak-kanak dan selama masa remaja membantu menentukan kesehatan tulang seumur hidup mereka.
Melansir dari Very Well Family, kemungkinan seorang anak terkena osteoporosis di kemudian hari tergantung pada seberapa banyak massa tulang yang ia capai pada saat mereka mencapai usia 30 tahun, serta seberapa cepat ia kehilangannya setelah itu.
Semakin tinggi massa tulang puncak, semakin banyak tulang yang akan disimpan dan semakin kecil kemungkinan untuk terkena osteoporosis seiring bertambahnya usia.
Kebanyakan orang tua percaya bahwa begitu remaja mencapai tinggi badan maksimalnya, mereka selesai berkembang.
Namun kenyataannya, masa remaja akhir adalah waktu yang vital untuk pertumbuhan tulang, bahkan setelah remaja sudah dewasa.
Sebuah penelitian di JAMA Pediatrics mengukur aktivitas fisik dan kekuatan tulang dari 309 remaja selama periode empat tahun.
Jendela empat tahun penelitian mencakup anak perempuan usia 10 sampai 14 dan anak laki-laki usia 12 sampai 16. Jangka waktu ini sangat penting karena sebanyak 36 persen dari kerangka manusia terbentuk dan tulang sangat responsif terhadap aktivitas fisik.
Apa yang peneliti temukan adalah bahwa remaja yang kurang aktif bergerak memiliki tulang yang lebih lemah. Dengan kata lain, anak-anak yang hanya duduk-duduk bermain game, menggunakan teknologi atau hanya malas tidak membebani tulang mereka dengan aktivitas fisik.
Baca Juga: Simak 5 Jenis Olahraga yang Bisa Menurunkan Berat Badan Kelompok Lansia
Meskipun anak laki-laki memiliki tulang yang lebih besar dan kuat selama penelitian, tulang mereka sama seperti perempuan dalam merespons aktivitas fisik.
Selain itu, para peneliti mencatat bahwa jenis aktivitas fisik tidak harus olahraga rutin agar efektif. Faktanya, aktivitas singkat seperti menari di sekitar rumah, mengejar anjing, atau melompat-lompat juga berdampak positif pada kesehatan tulang.
Jadi yang perlu digarisbawahi adalah, kunci untuk tulang kuat adalah anak meletakkan gadget dan membatasi waktu layar demi aktivitas fisik yang lebih banyak. Bahkan hanya berjalan-jalan dapat meningkatkan kesehatan tulang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Jaga Gula Darah Seharian, Penderita Diabetes Wajib Atur Pola Makan
-
Menjaga Hidrasi Saat Puasa, Kunci Tetap Bugar di Tengah Aktivitas Ramadan
-
Puasa Ramadan Jadi Tantangan bagi Penderita Diabetes, Begini Cara Mengelolanya
-
Kulit Sensitif dan Rentan Iritasi, Bayi Butuh Perawatan Khusus Sejak Dini
-
Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan Tanpa Gejala, Ini Hal-Hal yang Perlu Diketahui
-
Mengenal Operasi TAVI, Prosedur Jantung Modern Minimal Invasif yang Kini Hadir di Bali
-
Pentingnya Menjaga Kualitas Air Minum Isi Ulang agar Aman Dikonsumsi
-
Orang Tua Waspada! Ini Tanda Gangguan Pertumbuhan pada Anak: Pengaruh Hingga Dewasa
-
Vaksin Campak Apakah Gratis? Ini Ketentuannya
-
Tak Hanya Puasa, Kemenkes RI Sarankan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak saat Ramadan