Suara.com - Saat pandemi tingkat stres di masyarakat meningkat. Bahkan beberapa di antaranya cenderung mengarah ke depresi. Inilah sebabnya mengapa stres perlu dideteksi agar bisa ditangani sedini mungkin.
Nah, kabar baiknya mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil membuat alat pendeteksi stres dan depresi dengan menggunakan urine atau air kencing.
Alat ini diciptakan mahasiswa ITB yang tergabung dalam kelompok Pekan Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta, dan diberi nama Depression Test.
Kelompok ini terdiri dari mahasiswa angkatan 2019, diketuai oleh mahasiswa jurusan biologi, Maha Yudha Samawi dan beranggotakan mahasiswa Teknik Biomedis, Alifia Zahratul Ilmiah, dan mahasiswa Teknik Material, Gardin Muhammad Andika.
Gardin menjelaskan, bahwa orang yang mengalami stres pastinya akan mengalami perubahan konsentrasi pada beberapa zat dalam urine.
“Jadi kami memanfaatkan fase ini. Karena senyawa-senyawanya mengalami perubahan karakter spesifik kalau sudah dikasih sinyal. Dari sana, kami bisa mendeteksi orang yang mengikuti percobaan ini sudah sampai tahap depresi atau belum,” jelas Gardin, mengutip siaran pers ITB, Kamis (21/4/2022).
Adapun alat yang dirancang ini memiliki akurasi di angka 90 persen. Hasil alat ini dikalibrasi dengan tes BDI (Beck Depression Inventory), yang saat ini umum digunakan di kedokteran jiwa.
Sehingga terdapat 3 level penderita depresi, yakni rendah, sedang, dan berat.
Adapun inovasi ini bermula dari pengembangan tugas yang dikerjakan Yudha saat menjalani Tahap Persiapan Bersama (TPB) di SITH ITB.
Baca Juga: Sering Muntah Darah, Aming Pernah Nyaris Meninggal
Proses pembuatan alat ini dimulai saat masa pandemi. Karena terdapat berbagai kendala yang menghadang pada masa pandemi, progres dari pembuatan alat ini tergolong lambat dan belum 100 persen selesai.
Gardin juga bercerita bahwa alat yang mereka ciptakan berkaitan dengan lomba, dan banyak hal tak terduga banyak terjadi saat proses lomba tersebut.
"Tapi dari proses ini kita bisa belajar lebih jauh tentang ke depannya, sampai rasanya habis presentasi itu kami zseperti habis selesai sidang,” cerita Gardin.
Berbagai kendala juga dihadapi oleh kelompok ini dalam proses perancangan alat yang mereka lakukan. Kendala utama yang dihadapi adalah transisi waktu yang mereka alami.
Adapun proposal dibuat saat masih TPB, namun alatnya baru bisa dibuat saat tahun kedua perkuliahan, yang di mana waktu tersebut banyak diisi oleh kegiatan orientasi atau ospek jurusan.
Selain itu, mereka juga merasa saat itu wawasan yang mereka miliki masih dasar. Ditambah lagi, masa pandemi membuat kegiatan ini tak bisa dilakukan di laboratorium, yang akhirnya menghambat proses pengambilan data dan analisis.
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026