Suara.com - Jumlah kasus hepatitis akut atau hepatitis misterius yang diselidiki di antara anak-anak di seluruh dunia telah mencapai 450. Demikian menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa.
Jumlah itu lebih dari dua kali lipat jumlah yang dilaporkan kelompok itu dua minggu lalu, dan secara signifikan lebih tinggi dari hitungan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia yaitu 348.
DIlansir dari NBS kasus peradangan hati ini telah dilaporkan di lebih dari 25 negara, meskipun mayoritas berada di Inggris (sekitar 160) dan AS (sekitar 110). Sebagian besar anak-anak yang terkena dampak berada di bawah usia 5 tahun. Dari pasien AS, lebih dari 90 persen telah dirawat di rumah sakit dan 14 persen telah menjalani transplantasi hati. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit sedang menyelidiki lima kematian anak yang mungkin terkait.
Pakar penyakit tidak yakin apa yang ada di balik kasus ini, meskipun beberapa hipotesis mulai muncul. Teori utamanya adalah adenovirus, yang sering menyebabkan gejala seperti pilek atau flu atau masalah perut.
Lebih dari setengah kasus AS dites positif adenovirus, CDC mengatakan Rabu. Begitu pula sekitar 72 persen kasus di Inggris dan 60 persen di seluruh Eropa. Tetapi jarang adenovirus berdampak parah pada hati.
Sampel jaringan dan hati yang baru-baru ini diambil di Inggris tidak "menunjukkan ciri khas yang mungkin Anda harapkan dengan peradangan hati karena adenovirus, tetapi kami sedang menunggu pemeriksaan biopsi lebih lanjut," Dr. Phillipa Easterbrook, ilmuwan senior di WHO , kata Selasa.
Secara umum, ada ratusan kemungkinan penyebab hepatitis: Peradangan hati dapat disebabkan oleh racun, virus, atau makanan dan air yang terkontaminasi.
Namun dalam kasus baru-baru ini, para ahli memperhatikan adenovirus tertentu, tipe 41, yang telah diidentifikasi di sebagian besar kasus di Eropa dan banyak di AS. Adenovirus 41 biasanya menyebabkan sakit perut, tetapi biasanya tidak terkait dengan hepatitis pada anak-anak yang sehat.
Dr Markus Buchfellner, seorang rekan penyakit menular pediatrik di University of Alabama di Birmingham, adalah orang pertama yang memperhatikan pola yang tidak biasa dari hepatitis yang tidak dapat dijelaskan pada anak-anak di AS dan melaporkannya ke CDC. Dia dan para ahli lainnya bertanya-tanya apakah penguncian pandemi menghasilkan pengurangan paparan adenovirus secara umum, mungkin membuat anak-anak lebih rentan terhadapnya.
Baca Juga: Terpopuler Kesehatan: Dampak Makan Telur Setiap Hari, Kadar Kolesterol Normal Dalam Tubuh
Namun para ahli juga tidak menutup kemungkinan bahwa Covid-19 dapat menjadi kontributor yang mendasari, karena gelombang kasus tampaknya telah muncul selama pandemi.
"Itu salah satu pertanyaan terbesar yang belum terjawab," kata Buchfellner.
Tidak ada bukti bahwa virus corona secara langsung menyebabkan hepatitis pada anak-anak.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien