Suara.com - Viral di TikTok seorang perempuan membagikan kisahnya terkena stroke di usia muda karena kebiasaan begadang. Di mana imbasnya, ia harus masuk ICU serta mengalami koma.
"Guys dengerin, ini foto aku pas lagi ulang tahun dan di RS, posisi habis koma. Kenapa koma? Karena di pembuluh darah otakku itu ada perdarahan, jadi ada stroke," ujarnya, dikutip Suara.com atas izin yang bersangkutan, Senin (6/6/2022).
"Kok bisa stroke? Padahal masih muda, masih baru 20 tahun. Jawabannya adalah, begadang," ungkap @olszalau.
Ia mengaku kerap tidur saat sudah subuh, bahkan kadang baru tidur besok siangnya. Hal itu dilakukannya semenjak awal pandemi Covid-19 karena merasa lebih produktif beraktivitas di malam hari.
Karena kebiasaan tersebut, pada 2021 akhirnya tubuhnya drop sehingga mengharuskannya masuk ICU dan mengalami koma.
Dari pengalamannya tersebut, ia mengingatkan kepada siapapun yang suka begadang untuk berhenti agar tidak mengalami kejadian serupa.
Kebiasaan begadang membuat seseorang kurang tidur di malam hari. Mengutip dari penelitian yang terbit di European Heart Journal pada 2011 lalu oleh Warwick Medical School, menunjukkan bahwa kurang tidur yang berkepanjangan serta pola tidur yang terganggu dapat memiliki implikasi kesehatan jangka panjang yang serius.
Peneliti telah menghubungkan kurang tidur dengan stroke, serangan jantung dan gangguan kardiovaskular yang sering mengakibatkan kematian dini.
Selain stroke dan penyakit kardiovaskular, ingat lagi bahaya kurang tidur untuk kesehatan karena kebiasaan begadang, dirangkum dari Healthline.
Baca Juga: Viral Perempuan Bersahabat dengan Mantan, Endingnya Tetap Berjodoh
1. Tekanan darah tinggi
Tidur kurang dari lima jam di malam hari dapat memicu naiknya tekanan darah.
2. Menurunkan kekebalan tubuh
Terlalu sedikit waktu tidur melemahkan kekebalan tubuh untuk melawan virus, seperti virus yang menyebabkan pilek dan flu.
3. Risiko diabetes
Kurang tidur memengaruhi tubuh untuk melepaskan insulin, hormon penurun gula darah. Orang yang kurang tidur berisiko memiliki tingkat gula darah lebih tinggi yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien