Suara.com - Penyakit kardiovaskular (CVDs) adalah penyebab utama kematian secara global, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perkiraan badan kesehatan global menunjukkan 17,9 juta orang meninggal karena CVD pada 2019, mewakili 32 persen dari semua kematian global.
Dari kematian tersebut, 85 persen disebabkan oleh serangan jantung dan stroke. Selain itu, dengan peningkatan jumlah orang muda yang mengalami masalah kardiovaskular seperti serangan jantung, gagal jantung, dan serangan jantung, menjadi semakin penting untuk berhati-hati dan berhati-hati dalam meningkatkan kesehatan jantung kita.
Anehnya, asupan satu vitamin yang cukup dapat membantu mengurangi risiko penyakit jantung, yakni Vitamin K. Seperti dilansri dari Times of India, vitamin K adalah nutrisi penting yang diperlukan untuk pembekuan darah, penyembuhan luka dan kesehatan tulang.
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di National Library of Medicine, vitamin K mengacu pada sekelompok senyawa yang larut dalam lemak yang terlibat dalam koagulasi, perkembangan tulang, dan kesehatan kardiovaskular.
Lebih lanjut, dinyatakan, “Kekurangan vitamin K dapat menyebabkan pendarahan yang signifikan, perkembangan tulang yang buruk, osteoporosis, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.”
Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari New Edith Cowan University (ECU) menemukan bahwa orang yang mengonsumsi makanan kaya vitamin K berisiko 34% lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular terkait aterosklerosis - kondisi yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah.
Penulis senior studi tersebut Dr Nicola Bondonno mengatakan temuan menunjukkan bahwa mengkonsumsi lebih banyak vitamin K mungkin penting untuk perlindungan terhadap aterosklerosis dan penyakit kardiovaskular berikutnya.
Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) merekomendasikan 1 mikrogram vitamin K sehari untuk setiap kilogram berat badan untuk orang dewasa.
Menurut WHO, pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, penggunaan tembakau dan penggunaan alkohol yang berbahaya merupakan faktor risiko perilaku tertentu dari penyakit jantung dan stroke.
Baca Juga: Segera Cek! 6 Buah Ini Dapat Menurunkan Kadar Kolesterol
"Efek dari faktor risiko perilaku mungkin muncul pada individu seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan glukosa darah, peningkatan lipid darah, dan kelebihan berat badan dan obesitas. "Faktor risiko menengah" ini dapat diukur di fasilitas perawatan primer dan menunjukkan peningkatan risiko jantung. serangan jantung, stroke, gagal jantung, dan komplikasi lainnya," jelas badan kesehatan global itu.
Selanjutnya, WHO merekomendasikan: "Penghentian penggunaan tembakau, pengurangan garam dalam makanan, makan lebih banyak buah dan sayuran, aktivitas fisik secara teratur dan menghindari penggunaan alkohol yang berbahaya untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular."
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!