Suara.com - Anak-anak belum sepenuhnya mampu menggambarkan dan mengekspresikan emosinya dengan baik. Sering kali anak-anak agresif dan cenderung melakukan kekerasan.
Pada situasi ini, terkadang orangtua memiliki menegur atau menghukum mereka. Cara ini justru akan membuat mereka semakin agresif dari waktu ke waktu dan menahan emosinya.
Kemudian, anak-anak ini akan tumbuh dewasa dengan masalah hubungan dan trauma. Saat mereka marah, mereka mungkin akan mengekspresikannya melalui kekerasan fisik atau agresi.
Psikolog Dr Jazmine McCoy membahas masalah ini dalam postingan Instagram baru-baru ini. Ia mengatakan bahwa anak-anak sering berperilaku dengan cara tertentu untuk mengekspresikan kemarahannya karena 3 alasan.
- Mereka tidak tahu harus berkata dengan kalimat apa untuk mengekspresikannya.
- Mereka berpikir bahwa kata-kata mereka tidak membawa makna yang cukup untuk mengekspresikan diri sepenuhnya.
- Mereka bertindak berdasarkan dorongan fisik dan cenderung agresif.
Dr Jazmine McCoy lebih lanjut menambahkan bahwa sebagai orang tua, kita seharusnya tidak meminta anak-anak untuk tidak marah. Orangtua harus mengajari mereka cara mengekspresikan kemarahan yang benar dan sehat.
Berikut ini dilansir dari Hindustan Times, cara mengajarkan anak-anak mengekspresikan kemarahannya.
1. Ajarkan frasa yang tepat
Sejak balita, mulailah ajarkan anak dengan kata-kata yang sesuai dengan usianya untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya, Anda bisa mengajarkan mereka kata tidak, terima kasih, tolong, dan tidak suka.
Karena, kata-kata dasar itu sangat penting bagi anak-anak mengkomunikasikan kondisi maupun perasaannya.
Baca Juga: 3 Cara Mengolah Daun Tapak Dara untuk Mengobati Diabetes
2. Melepaskan amarah
Ada banyak cara sehat untuk melepaskan amarah terpendam yang bisa diajarkan kepada anak-anak. Anda bisa menyarankannya pergi jalan-jalan ke luar, berluar, menari atau mengambil napas dalam-dalam untuk melepaskan amarahnya.
3. Buku anak-anak
Penting bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa kemarahan juga sehat. Perkenalkan mereka pada buku anak-anak yang mengandung emosi seperti itu dan bicarakan tentangnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien