Suara.com - Keju adalah salah satu bahan makanan yang kerap ditambahkan ke dalam makanan pendamping ASI (MPASI). Tak hanya menambah nutrisi, pemberian keju juga bertujuan untuk menambahkan cita rasa gurih pada MPASI, sehingga diharapkan bayi akan makan dengan lahap.
Pusat pengendalian penyakit di Amerika atau The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan keju dapat diberikan saat bayi berusia 7—8 bulan.
Meski begitu, ada baiknya sebelum memberikan keju untuk bayi, Anda perhatikan dulu beberapa hal berikut:
1. Pilih Jenis Keju yang Aman untuk Bayi
Dilansir dari NHS, jenis keju yang bisa diberikan untuk bayi sejak usia 6 bulan adalah keju jenis full-fat sekaligus keju yang terbuat dari susu yang telah melalui proses pasteurisasi. Dengan begitu, susunya matang sempurna dan bebas bakteri.
Keju yang aman dikonsumsi bayi di antaranya jenis keju lunak seperti cheddar, keju cottage, dan cream cheese.
Sedangkan keju yang harus dihindari adalah jenis keju lunak seperti keju brie, camembert, dan blue cheese. Ketiga keju ini mengandung bakteri listeria penyebab penyakit listeriosis yang berbahaya.
2. Takaran Keju yang Tepat
Untuk tahap awal, mulai dari porsi kecil sebagai topping atau sejumput keju parut sebagai penambah rasa gurih. Untuk bayi usia 6—8 bulan, berikan keju sebanyak 1—2 ons per hari, sedangkan untuk usia 8—10 bulan bisa diberikan sebanyak 2—4 ons per hari. Porsi ini dapat ditingkatkan sesuai usia dan kebutuhan.
Baca Juga: Ada yang Bilang Keju Hanya Cocok Untuk Bahan Kue, Chef Juna: Ah Masa Sih?
3. Perhatikan Alergi yang Mungkin Timbul Karena Konsumsi Keju
Meski lezat, ingatlah bahwa keju termasuk makanan yang berpotensi menyebabkan alergi. Oleh sebab itu, penting untuk memberikan rentang waktu 2—4 hari antara makanan berkeju yang baru saja diberikan, sebelum Anda memberikan makanan berkeju selanjutnya pada bayi. Langkah ini penting dilakukan untuk melihat apakah keju yang dikonsumsi menimbulkan reaksi alergi atau tidak.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Drama Keluarga Halilintar Memanas! Atta Akhirnya Bicara soal Isu Aurel Diabaikan di Foto Keluarga
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker
-
Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi