Suara.com - Covid-19 subvarian Omicron BA.5 saat ini menjadi masalah di berbagai negara. Pasalnya, subvarian tersebut cepat menyebar dan membuat jumlah kenaikan kasus infeksi di berbagai negara naik.
Berdasarkan data Worldometers Kamis pagi, hingga saat ini total kasus Covid-19 mencapai 591,7 juta. Sementara itu dalam satu hari, tercatat kenaikan kasus sebanyak 587 ribu dengan angka tertinggi terjadi di Jepang yaitu 196 ribu.
Di samping itu, total angka kematian hingga saat ini telah mencapai angka 6,4 juta. Sementara dalam satu hari kemarin, tercatat kematian sebanyak 1.596. Untuk jumlah pasien yang telah sembuh tercatat 563,7 juta dan 873 ribu dalam satu hari kemarin.
Hingga saat ini kasus aktif tercatat 21,6 juta. Berbagai negara di belahan dunia juga masih mengupayakan untuk mengendalikan situasi yang ada, terutama kenaikan kasus akibat subvarian Omicron BA.5.
Rupanya, subvarian Omicron BA.5 ini sendiri juga menyebabkan gejala yang dirasakan pada malam hari. Melansir laman Independent, Ahli Imunologi dari Trinity College Dublin, Profesor Luke O'Neill mengungkapkan subvarian baru ini sering menyebabkan gejala pada malam hari.
Subvarian baru ini juga dinilai berbeda dengan jenis yang lainnya. Bahkan, subvarian BA.5 ini juga bisa menginfeksi orang yang baru saja sembuh setelah terinfeksi Covid-19 dalam waktu singkat.
Profesor O’Neill sendiri mengungkapkan, gejala tambahan yang timbul sendiri yaitu munculnya keringat pada malam hari.
“Satu gejala tambahan dari BA.5 yang saya lihat pagi ini adalah keringat malam,” kata Profesor Luke.
Subvarian BA.5 ini juga yang saat ini mendorong lonjakan kasus di sejumlah negara bersama dengan BA.4. Menurutnya, Covid-19 saat ini juga akan menimbulkan gejala yang berbeda, apalagi virusnya telah mengalami perubahan.
Selain itu, kenaikan kasus yang drastis ini sendiri juga ditakutkan akan adanya kebangkitan Covid-19 ke depannya. Apalagi munculnya berbagai gejala baru, khususnya keringat di malam hari yang sebelumnya tidak terjadi.
Baca Juga: Update COVID-19 Jakarta 10 Agustus: Positif 2.224, Sembuh 1.670, Meninggal 4
Meskipun demikian, Prof O’Neill juga mengungkapkan, vaksinasi akan sangat membantu mengurangi risiko gejala yang parah saat mengalami Covid-19.
Untuk itu, menurutnya vaksinasi akan sangat membantu menghindari gejala parah pada seseorang.
Seperti yang diketahui subvarian BA.5 ini sendiri pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada bulan Februari.
Setelah itu, satu bulan kemudian subvarian BA.4 diidentifikasi di negara yang sama. Hingga kini subvarian yang satu ini sudah menyebar di berbagai negara di dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS