Suara.com - Perundungan atau bullying bisa terjadi di kelompok mana pun baik orangtua dan anak-anak. Tidak hanya menjadi korban, anak juga bisa menjadi pelaku bullying.
Bila sudah begitu, orangtua yang mengetahui kalau anaknya menjadi pelaku bullying sebaiknya bersikap sabar.
Psikolog Tiga Generasi Putu Andani, M. Psi menyarankan orangtua untuk mendengarkan 'alasan' mengapa anak sampai merundung temannya.
"Sama seperti tantrum, kita dengarkan dulu sebenarnya kenapa. Itu gak mudah, anak gak akan langsung ngomong, jadi memang pendekatannya pelan-pelan dan gak bisa sekali anak langsung bilang," kata Putu ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, anak pasti butuh waktu untuk mengungkapkan alasan dirinya lakukan perundungan.
Bila orangtua tidak juga bisa membuat anak bercerita, Putu menyarankan agar meminta tolong kepada pihak lain yang sekiranya bisa membuat anak nyaman. Misalnya, guru ataupun anggota keluarga yang lain.
"Yang gak bisa kita lakukan langsung adalah menyalahkan anak. Karena gimana pun perilaku anak adalah cerminan dari apa yang ingin dia komunikasikan," ujarnya.
Menurut Putu, anak yang jadi pelaku bullying biasanya memiliki masalah internal, entah itu terkait hubungannya dengan orangtua atau pun masalah lain.
Masalahnya, anak belum punya kemampuan untuk mengendalikan emosinya. Bahkan anak cenderung menyerap apa pun dari lingkungannya.
Baca Juga: Dibully Gegara Kasus Orang Tuanya, Kak Seto Janji Kembalikan Rasa Percaya Diri Anak-anak Ferdy Sambo
"Ketika dia tahu kalau marah itu pukul teman, artinya ada sesuatu yang dia pelajari di lingkungan seperti itu. Mungkin mereka pernah lihat sesuatu kalau marah langsung dilampiaskan ke orang lain, karena bagaimana pun itu terekam di memori anak," jelasnya.
Ada banyak faktor yang bisa memicu anak jadi pelaku bullying, tidak hanya karena pola asuh. Putu mengatakan, tontonan yang dikonsumsi anak juga bisa jadi pemicunya.
Tetapi, anak yang kurang dapat perhatian dari orangtuanya memang rentan mejadi pelaku bullying. Sebab, anak merasa kurang didengar, dilihat, dan dipahami oleh orangtuanya.
"Kalau anak merasa tidak didengar, tidak dilihat, tidak dipahami, anak akan mencoba mengomunikasikan bahwa itu kurang yang bagian itu. Jadi dengan mem-bully orang lain sebagai tanda diperhatikan atau dia merasa kesal tapi enggak punya skill untuk manage emosi," kata Putu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 4 Pilihan HP OPPO 5G Terbaik 2026 dengan RAM Besar dan Kamera Berkualitas
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- Bojan Hodak Beberkan Posisi Pemain Baru Persib Bandung
Pilihan
-
Sah! Komisi XI DPR Pilih Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI
-
Hasil Akhir ASEAN Para Games 2025: Raih 135 Emas, Indonesia Kunci Posisi Runner-up
-
5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
-
Promo Suuegeerr Alfamart Jelang Ramadan: Tebus Minuman Segar Cuma Rp2.500
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
Terkini
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink
-
Ibu Tenang, ASI Lancar: Kunci Menyusui Nyaman Sejak Hari Pertama
-
Kisah Desa Cibatok 1 Turunkan Stunting hingga 2,46%, Ibu Kurang Energi Bisa Lahirkan Bayi Normal
-
Waspada Penurunan Kognitif! Kenali Neumentix, 'Nootropik Alami' yang Dukung Memori Anda
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?