Suara.com - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat meminta sekolah tetap waspada terhadap infeksi cacar monyet, meski risikop penularan terhadap anak dan remaja tergolong rendah.
Protokol kesehatan yang sudah dilakukan saat ini seperti menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan pakai sabun tetap dianjurkan untuk dilakukan di sekolah untuk kewaspadaan.
"Saat ini risiko penularan cacar monyet pada anak-anak dan remaja sangat rendah. Penularan cacar monyet hanya bisa terjadi jika anak melakukan kontak erat, sentuhan langsung kulit ke kulit dengan pasien positif. Saat ini, penyebab utama penularan cacar monyet masih kontak seksual," tutur CDC dalam keterangan resminya, dikutip dari Medical Daily.
Penularan dengan kontak langsung perlu menjadi perhatian. Namun CDC juga mengingatkan orangtua dan sekolah untuk mewaspadai penularan melalui benda seperti sendok makan, pakain, hingga handuk.
Oleh karena itu, protokol kesehatan tetap perlu dilakukan secara ketat. Orangtua juga diminta untuk mewaspadai munculnya ruam, gatal, hingga benjolan yang bisa terjadi pada anak-anak.
Vaksin Cacar Monyet di Indonesia
Indonesia sendiri terus mewaspadai penularan penyakit cacar monyet, usai melaporkan kasus pertama pekan lalu, dengan mendatangkan 1.000 dosis vaksin.
Namun Ketua Satgas Monkeypox PB IDI, dr. Hanny Nilasari, SpKK, mengungkapkan tidak semua masyarakat akan mendapatkannya seperti Covid-19. Hal ini karena masyarakat yang menerima vaksinasi akan diberikan kepada mereka yang memiliki kontak erat dengan cacar monyet.
"Vaksin untuk generasi pertama tidak diindikasikan sehingga sekarang dalam kajian adalah generasi kedua dan ketiga. Vaksin ini dapat mengakomodasi seluruh populasi yang kontak erat. Vaksin cacar monyet sendiri tidak diindikasikan untuk diberikan secara massal,” ucap dr. Hanny saat ditemui di Gedung PB IDI Dr R Soeharto, Jakarta, Selasa (30/8/2022).
Baca Juga: Warga Lamongan Dipastikan Negatif Cacar Monyet
Meski demikian, dr. Hanny mengatakan, hingga saat ini pihak PB IDI masih melakukan konsolidasi untuk merekomendasikan vaksin terbaik yang akan dipilih Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk cacar monyet.
“Memang kami sendiri dari PB IDI sedang melakukan konsolidasi untuk memberikan rekomendasi tentunya vaksin yang terbaik untuk dipilih oleh Kementerian Kesehatan,” sambungnya.
Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Mohammad Syahril terkait vaksinasi. Syahril mengatakan, alasan vaksin tidak diberikan kepada masyarakat umum karena hal tersebut yang dianjurkan WHO.
“Untuk saat ini WHO belum memberikan anjuran untuk seluruh negara vaksinasi massal seperti halnya COVID-19. Vaksin yang dulu ada 1980 masih dinilai efektif tetapi negara-negara maju mereka ada yang mengadakan (penelitian) sendiri,” ucap Syahril.
Berita Terkait
-
Waspada! Wabah Mpox di Afrika Tidak Terkendali, 1.100 Orang Tewas
-
Waspada! Cacar Monyet Melonjak di Australia, Total 737 Kasus
-
Monkeypox Merebak di Afrika, Apa Vaksin Mpox Aman untuk Anak?
-
Jumlah Kasus Cacar Monyet di Filipina Naik, Menteri Kesehatan Bilang Begini
-
5 Pertanyaan Seputar Vaksin Mpox: Bisa Dapat di Mana dan Untuk Siapa?
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang