Health / Konsultasi
Kamis, 20 Oktober 2022 | 15:39 WIB
Ilustrasi obat sirup. Tips aman mengonsumsi obat sirup bagi anak. [ANTARA]

Sudah sejak lama, etilen glikol ini dipergunakan untuk bahan campuran pendingin mesin, karena memiliki titik beku yang sangat rendah, serta titik didihnya lebih tinggi daripada air.

Senyawa tersebut tidak berwarna dan juga tidak memiliki bau. Namun, bagi manusia, etilen glikol ini cukup beracun.

Bahaya utama pada senyawa ini terletak pada rasanya yang manis. Oleh karenanya, anak-anak hingga hewan kerap tidak sengaja mengkonsumsi melebihi dosis maksimal yang diperbolehkan.

Pada saat terhirup, etilen glikol ini akan teroksidasi menjadi asam glikolat, lebih lanjut akan berubah menjadi asam oksalat yang bersifat racun.

Bahayanya, etilen glikol dan produk sampingnya yang beracun ini akan menyerang sistem saraf pusat, jantung, serta ginjal yang akan bersifat fatal apabila tidak segera ditangani.

Konsumsi dalam jumlah yang tidak sesuai anjuran akan menyebabkan kematian.

Tahap pertama atau tahap neurologis berlangsung dari 30 menit sampai 12 jam setelah mengkonsumsi kandungan tersebut.

Tahap kedua atau disebut dengan tahap cardiopulmonary, terjadi antara 12 sampai 24 jam setelah mengkonsumsi. Untuk tahap ketiga atau tahap ginjal, berlangsung antara 24-72 jam setelah menelan etilen glikol.

Dosis etilen glikol yang berbahaya dan mematikan pada manusia yaitu dengan berat 70 kg, atau sekitar 100 ml.

Baca Juga: Tindak Lanjuti Instruksi Kemenkes, Pemkot Jakbar Larang Apotek Jual Obat Sirup

Adapun kondisi dini pada saat keracunan etilen glikol ini mirip dengan keracunan etanol. Namun, tidak ada aroma alkohol pada nafas pasien.

Efek samping tersebut di antaranya yaitu:

  • Depresi sistem saraf pusat
  • Kemabukan
  • Euforia
  • Pingsan
  • Depresi pernapasan
  • Mual dan muntah bisa terjadi akibat dari iritasi gastrointestinal atau saluran pencernaan

Dalam kondisi yang parah, senyawa ini bisa menyebabkan koma, hilangnya refleks, kejang, hingga iritasi pada jaringan yang melapisi otak.

Tidak hanya itu, produk sampingan metabolisme beracun dari etilen glikol diketahui akan menyebabkan penumpukan asam dalam darah atau asidosis metabolik.

Bahaya Dietilen Glikol (DEG) 

Tidak jauh berbeda dengan etilen glikol, Dietilen Glikol (DEG)  yang merupakan kombinasi dari dua molekul ini juga bisa menyebabkan keracunan dan sangat berbahaya apabila dikonsumsi.

Pada umumnya, gejala awal bagi orang yang terkena racun Dietilen Glikol (DEG) adalah gejala gastrointestinal atau sistem pencernaan.

Gejala-gejala tersebut kemungkinan tertunda selama 48 jam, dan bisa berkembang menjadi asidosis metabolik.

Tidak hanya itu, dalam waktu 48 jam, senyawa ini juga bisa mencederai organ hati dan ginjal, diikuti dengan adanya efek neurologis seperti neuropati atau gangguan pada saraf tubuh.

Bahaya Etilen Glikol Butil Ether (EGBE)

Etilen glikol butil ether (EGBE) atau Ethylene glycol butyl ether (EGBE) ini merupakan salah satu jenis dari glikol eter. EGBE ini diproduksi dengan mereaksikan etilen oksida dan butanol normal (n-butanol) menggunakan katalis.

EGBE merupakan cairan yang bening dan mudah terbakar dengan bau yang ringan. Senyawa ini biasanya digunakan sebagai pelarut. Bahkan, biasanya, kandungan ini juga kerap menjadi bahan kimia umum yang sering digunakan dalam produk industri maupun rumah tangga.

Hal tersebut karena kandungan ini mampu larut dengan air dan bisa bercampur dengan minyak mineral dan sabun. Oleh karenanya, pelarut tersebut sering digunakan dalam pembersih, cat, tinta, dan pelapis.

EGBE ini bisa menimbulkan efek kesehatan yang sangat serius. Beberapa di antaranya yaitu dalam proses pernapasan.

Bagi orang yang menghirup zat ini, bisa menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan. Gejala tersebut diantaranya seperti sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala, mual dan sesak nafas hingga kerusakan sel darah merah atau hemolisis.

Bahkan diketahui, EGBE ini juga memiliki konsentrasi tinggi yang memiliki efek narkotika.

Jika seseorang menelan zat ini, maka akan menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan. Gejala yang biasanya terjadi seperti mual, muntah, dan diare, hingga memicu keracunan sistemik dengan gejala yang paralel dengan gejala inhalasi.

Parahnya, jika seseorang terpapar dalam jangka waktu yang lama atau berulang, maka akan mengakibatkan adanya kerusakan pada hati, ginjal, sistem limfoid, dan darah.

Kontributor : Syifa Khoerunnisa

Load More