Suara.com - Apa itu penyakit difteri? Difteri adalah penyakit menular akut yang terjadi pada hidung dan tenggorokan, di mana penyakit difteri ini disebabkan oleh infeksi bakteri dan biasanya ditandai dengan adanya perubahan warna pada lapisan dinding rongga mulut.
Biasanya, lapisan dinding rongga mulut akan berubah warna menjadi keabu-abuan bahkan hitam serta terjadi pembengkakan amandel dan kelenjar getah bening.
Penyakit difteri ini harus segera ditangani dengan cepat karena infeksi tersebut bisa berbahaya bagi kesehatan sejumlah organ tubuh. Racun yang keluar akibat bakteri difteri dapat merusak bagian jantung, ginjal, bahkan juga otak. Tidak hanya itu, jika saluran pernapasan terhalang maka hal itu bisa menyebabkan penderita sulit bernapas.
Mengenal apa itu difteri, Anda juga harus mengetahui gejalanya. Biasanya, gejala difteri akan muncul 2 sampai 5 hari setelah seseorang terinfeksi. Namun perlu diperhatikan, bahwa tidak semua orang yang terinfeksi difteri mengalami gejala. Berikut ini adalah gejala difteri yang patut diwaspadai:
- Mengalami sakit tenggorokan
- Suara menjadi serak
- Batuk dan pilek
- Demam tinggi hingga menggigil
- Badan menjadi lemas
- Muncul benjolan di leher akibat adanya pembengkakan kelenjar getah bening.
Penyebab Difteri
Penyakit difteri ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang bisa menular melalui droplet pernapasan, seperti ketika batuk atau bersin yang berasal dari penderita difteri. Infeksi bakteri difteri ini juga bisa ditularkan melalui benda-benda yang terkontaminasi air liur penderita, misalnya melalui gelas atau sendok, yang kemudian digunakan oleh orang lain.
Selain itu, penyakit difteri ini lebih berisiko terjadi pada orang yang pernah berpergian ke wilayah yang sedang terjadi wabah difteri, memiliki sistem imun tubuh yang rendah, dan hidup di area padat penduduk yang kurang bersih. Maka dari itu, sangat penting untuk mendapatkan vaksin difteri sebagai bentuk pencegahan penyakit difteri ini.
Baca Juga: Jangan Asal Konsumsi! Ini 3 Makanan yang Aman untuk Penderita Difteri
Bagaimana cara mengobati difteri? Tentunya, Anda harus memeriksakan diri ke dokter. Sebelum menentukan diagnosis penyakit, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan bagian tenggorokan terlebih dahulu.
Apabila terdapat lapisan abu-abu di tenggorokan atau amandel, maka diduga ada infeksi difteri. Tapi untuk memastikannya, dokter akan mengambil sampel lendir dari tenggorokan dengan pemeriksaan usap atau swab tenggorokan, kemudian hasilnya akan diteliti di laboratorium apakah mengandung bakteri penyebab difteri atau tidak.
Penyakit difteri ini membutuhkan prosedur pengobatan yang tepat, termasuk melalui obat-obatan, seperti antitoksin dan antibiotik. Baik anak-anak maupun orang dewasa yang menderita difteri biasanya harus dirawat di rumah sakit dan diisolasi di unit perawatan intensif.
Pasalnya, penyakit difteri ini dapat menyebar dengan mudah ke siapapun yang belum mendapatkan imunisasi DPT, khususnya vaksin difteri. Demikian penjelasan singkat tentang apa itu difteri.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama
Berita Terkait
-
Jangan Asal Konsumsi! Ini 3 Makanan yang Aman untuk Penderita Difteri
-
Faktor, Gejala, dan Pengobatan Penyakit Difteri yang Harus Kamu Pahami
-
Ketahui Penyakit Menular yang Rentan Serang Anak-anak, Bahaya Difteri!
-
Mengenal Difteri, Penyakit Mematikan yang Muncul Kembali di Abad ke-21
-
Menkes Ungkap Biang Kerok Muncul KLB Difteri di Garut
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi