Suara.com - Tidak hanya penumpang kereta commuterline atau kereta KRL yang menyarankan untuk mengimpor gerbong kereta sementara, saran yang sama juga dilontarkan dokter yang khawatir masyarakat alami hipoksia. Memang segitu bahayanya ya?
Seperti diketahui saat ini penumpang KRL mengeluhkan jumlah kereta dan rangkaian gerbong yang sedikit di jam sibuk atau jam berangkat dan pulang kerja. Hasilnya, penumpang berdesakan dan memaksa masuk meski harus mendorong paksa penumpang yang ada di dalam gerbong.
Inilah sebabnya Dokter Ahli Penyakit Dalam, dr. Andi Khomeini Takdir menyarankan melakukan impor sementara gerbong KRL, demi kesehatan masyarakat Jabodetabek yang mengandalkan kereta KRL sebagai moda transportasi.
"Impor aja dulu gerbong KRL-nya. Daripada rakyat kita tersiksa dan hipoksia," ujar dr. Andi dalam cuitannya di Twitter dengan hastag saran dikutip suara.com, Selasa (28/3/2023).
Hypoxia atau hipoksia adalah suatu kondisi dimana tubuh memiliki kadar oksigen di bawah batas normal. Gejala hipoksia meliputi mudah bingung, gelisah, kesulitan bernapas, detak jantung cepat, dan kulit kebiruan.
Mengutip Cleveland Clinic, hipoksia bisa terjadi jika orang tersebut kekurangan kadar oksigen dalam darah. Meski tubuh sementara bisa menyesuaikan diri dengan penurunan kadar oksigen, tapi jika hipoksia terjadi terus menerus bisa menyebabkan kerusakan organ.
Kerusakan organ yang parah bila otak dan jantung rusak, karena bisa menyebabkan kematian. Sehingga kurangnya oksigen ke otak disebut dengan hipoksia serebal.
Ada 4 cara mencegah hipoksia, seperti sebagai berikut:
- Cukupnya oksigen di udara yang dihirup, termasuk tidak berebutan dengan orang lain dalam satu ruangan.
- Fungsi paru harus sehat untuk mendapatkan oksigen.
- Jantung harus berfungsi normal agar peredaran darah tetap sehat, untuk mendapatkan darah yang berisi oksigen.
- Memastikan sel darah merah cukup untuk mengantarkan oksigen ke seluruh organ tubuh.
Sebelumnya Anggota DPR RI Komisi VI Fraksi PDIP, Evita Nursanty jadi sorotan setelah keukeuh melarang gerbong kereta KRL impor, sedangkan di sisi lain PT Kereta Api Indonesia atau KAI Commuter akan membuat puluhan gerbongnya pensiun karena sudah tidak layak digunakan.
Baca Juga: Tolak Impor Kereta Bekas Jepang, Anggota DPR Sebut KRL Padat Cuma saat Lebaran dan Tahun Baru
Hasilnya karena khawatir semakin mengganggu kenyamanan pengguna KRL, KAI Commuter berencana impor gerbong kereta bekas dari Jepang, karena di saat bersamaan produsen dalam negeri PT INKA belum bisa menyanggupi pembuatan gerbong kereta KRL dalam waktu dekat.
Di sisi lain, mengimpor gerbong kereta bekas tersandung aturan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri), yang regulasinya diatur dalam undang-undang. Namun jumlah penumpang kereta KRL terus meningkat, sehingga dikhawatirkan memperparah chaos di jam sibuk untuk mobilitas masyarakat Jabodetabek.
Bahkan Evita Nursanty juga dinilai tidak bisa membedakan antara KRL dan kereta jarak jauh, karena menganggap chaos tidak akan terjadi karena sudah lewat tahun baru dan arus mudik lebaran di Hari Raya Idul Fitri tidak terjadi.
"Sekarang apakah kita chaos kalau kita tidak impor ini barang, apakah kita chaos? Karena impor pun itu kan sudah lewat. Kita kan biasanya chaos itu di tahun baru, kita biasanya keos di lebaran," kata Evita seperti dikutip melalui tayangan kanal YouTube Komisi VI DPR RI Channel.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan