Suara.com - Selain perceraiannya dengan Teuku Ryan, Ria Ricis mengungkapkan hal yang membuatnya merasa sedih saat ini dalam sebuah acara televisi bersama Iis Dahlia.
YouTuber 45 juta subscribers tersebut mengatakan jika putrinya Moana yang belum lancar bicara seperti anak-anak lainnya seringkali membuat hatinya merasa sedih.
"Moana belum bisa bicara lancar," kata Ria Ricis saat ditanya apa hal yang membuatnya sedih seperti Suara.com kutip pada Jumat (17/5/2024) di akun TikTok @munawarkapten_03.
Pemilik nama lengkap Ria Yunita tersebut mengatakan jika saat ini usia Moana memang belum genap 2 tahun. Mendengar hal tersebut, Iis Dahlia berusaha menenangkan.
"Ya gapapa biasanya kalo anak bicaranya agak lambat, begitu udah ngomong, bawel," ucap sang pedangdut.
Namun yang membuat wanita berusia 28 tahun makin merasa sedih adalah bila ada orang yang membandingkan anaknya dengan anak-anak lain.
"Cuma kadang tuh yg bimin sedih kayak misalnya nih ke sekolah. Aku kan suka anter ke sekolah atau ketemu orang-orang langsung yang bawa anak suka dibanding-bandingin gitu," pungkasnya.
"Anaknya umur berapa ih kok belum bisa ngomong ya, kok diem aja ya gitu," tambah wanita yang akrab disapa Ricis ini menirukan perkataan orang.
Dikutip Halodoc, anak yang mengalami keterlambatan bicara, tidak selalu berarti ada masalah yang serius. Karena perlu dipahami, perkembangan setiap anak bisa berbeda-beda.
Baca Juga: Sikap Ria Ricis Risih Dikuatkan Dewi Perssik Tuai Atensi: Jangan Gitu
Saat berusia dua tahun, anak umumnya dapat mengucapkan sekitar 50 kata dan mampu berbicara dalam dua atau tiga kata. Kosakata anak akan semakin meningkat seiring pertambahan usia.
Meski begitu, sangat normal bagi orang tua jika khawatir jika ada gangguan pada kemampuan berbicara anak.
Berikut ini beberapa tanda dan gejala speech delay pada anak yang perlu dikenali:
1. Anak kesulitan meniru suara
Umumnya, pada usia 18 bulan atau lebih, anak sudah bisa meniru suara yang ia dengar, atau setidaknya mengatakan “mama” dan “papa”. Sedangkan pada usia dua tahun, Si Kecil umumnya sudah mampu mengucapkan kata-kata selain meniru suara.
Jika Si Kecil tampak kesulitan meniru suara ataupun belum memiliki kosakata, ayah dan ibu perlu waspada pada gejala awal ini.
2. Lebih suka menggerakan tubuh dibandingkan menggunakan suara
Gejala speech delay berikutnya yaitu anak tampak lebih suka menggerakan anggota tubuhnya, dibandingkan menggunakan suaranya untuk menyampaikan sesuatu.
Sebenarnya melakukan gerakan untuk berkomunikasi masih terbilang normal jika dilakukan anak saat usianya masih di bawah 12 bulan. Namun, saat Si Kecil sudah berusia 18 bulan dan ia masih lebih suka gerakan dibandingkan membuat suara untuk berkomunikasi, maka itu bisa menjadi gejala speech delay.
3. Anak tidak mampu mengikuti instruksi secara verbal
Pada usia dua tahun, anak umumnya sudah dapat memahami dan mengikuti arahan sederhana dari orang tuanya. Misalnya saat ayah atau ibu mengatakan “tolong ambilkan boneka kelinci itu”, tapi anak tidak memahami atau tidak mengikuti arahan.
4. Tidak mampu mengucapkan kata-kata yang dapat dipahami
Tanda dan gejala speech delay berikutnya yaitu anak tidak mampu mengucapkan kata-kata yang dapat dipahami orang dewasa. Orang tua seharusnya dapat memahami sebagian dari kata-kata yang diucapkan anak pada usia dua tahun. Anak pun juga sudah memahami maksud dari kata-kata yang diucapkan.
Pada usia tiga tahun, anak seharusnya sudah bisa memahami kata-kata dan kalimat sebesar 75 persen. Sedangkan pada usia 4 tahun, kata-kata dan kalimatnya sudah lebih baik, bahkan mudah dipahami oleh orang asing. Apabila anak kesulitan mengingat kata-kata yang sudah dipelajari, sebaiknya segera periksakan ke dokter.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
-
Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi