Suara.com - Pengidap penyakit jantung dipastikan mengalami penumpukan lemak pada pembuluh darah di jantung hingga menjadi plak atau arterosklerosis. Penumpukan lemak hingga menjadi plak itu tidak terjadi dalam waktu singkat, tetapi bisa jadi dalam hitungan bulan hingga bertahun-tahun akibat gaya hidup tidak sehat.
Dokter spesialis pembuluh darah dan jantung Rumah Sakit Pondok Indah dr. Yahya B. Juwana, Sp.Jp(K)., menjelaskan bahwa timbunan lemak itu mulanya menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah. Lambat laun, tumpukan lemak makin mengeras dan berubah jadi plak.
"Awalnya akibat kerusakan dinding pembuluh darah dan akhirnya muncul timbunan lemak. Itu bisa alami pengapuran dan bisa bertambah," jelas dokter Yahya dalam diskusi media di Jakarta.
Plak yang semakin menumpuk pada pembuluh darah jantung itu bisa jadi menutupi seluruh area hingga pecah dengan sendirinya. Plak yang pecah, kata dokter Yahya, akan menyebabkan gumpalan darah. Akibatnya, darah di area jantung terganggu atau bahkan tidak akan mengalir. Kondisi tersebut yang menimbulkan serangan jantung.
Sayangnya, timbunan lemak yang sudah berubah jadi plak itu tidak akan bisa dihilangkan dengan pengobatan apa pun. Sehingga, plak pada pembuluh darah jantung itu akan bertahan seumur hidup.
"Kalau sudah plak memang sekarang gak bisa dihilangkan, yang bisa hanya dihambat pertumbuhannya. Biasanya diberikan dengan ibat kolesterol," ujarnya.
Untuk mencegah terjadinya serangan jantung, seseorang yang sudah memiliki plak sebaiknya ubah gaya hidup serta dilakukan terapi kateter untuk menahan pertumbuhan plak makin banyak.
"Kalau misalnya dia (ada plak) 20-30 persen kemudian dilakukan keteterisasi pada satu titik ini, 10 tahun kemudian bisa tetap 30 persen. Plak itu bisa saja tertahan kalau mngkin dia sudah menjaga lifestyle jadi gak akan bertambah. Bisa juga plak bertambah dalam waktu 6 bulan atau 9 bulan yang awalnya 30-40 persen jadi 70 persen," tuturnya.
Dokter Yahya menjelaskan bahwa pertumbuhan plak pada setiap orang bisa jadi berbeda-beda. Kondisi itu tergantung dari faktor risiko kesehatan serta gaya hidup yang dilakukan.
Baca Juga: Hanum Mega Lakukan Sedot Lemak, Dipuji Jadi Mirip Ariel Tatum
"Kalau ada diabetes lalu lifestyle belum dijaga, tetap merokok, plak itu akan tumbuh terus," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
- Terpopuler: 7 HP Layar Super Amoled, Samsung Galaxy A07 5G Rilis di Indonesia
Pilihan
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
Terkini
-
Tantangan Pasien PJB: Ribuan Anak dari Luar Jawa Butuh Dukungan Lebih dari Sekadar Pengobatan
-
Gen Alpha Dijuluki Generasi Asbun, Dokter Ungkap Kaitannya dengan Gizi dan Mental Health
-
Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak, Antrean Operasi Capai Lebih dari 4.000 Orang
-
Bandung Darurat Kualitas Udara dan Air! Ini Solusi Cerdas Jaga Kesehatan Keluarga di Rumah
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026