Suara.com - Baru-baru ini, para ilmuwan dikabarkan menemukan metode perawatan kanker yang hanya memakan waktu kurang dari satu detik. Apakah benar demikian?
Di gua bawah tanah pinggiran Jenewa, Swiss, eksperimen besar sedang berlangsung. Penelitian ini berpotensi menciptakan mesin radioterapi generasi baru.
Perangkat ini diharapkan mampu mengatasi kanker yang sudah menyebar, menyembuhkan tumor otak kompleks, dan mengurangi efek samping pengobatan.
Eksperimen ini dilakukan di European Laboratory for Particle Physics (CERN), lembaga yang sebelumnya mengembangkan Large Hadron Collider—alat untuk mempercepat partikel hampir setara kecepatan cahaya. Cikal bakal teknologi ini muncul sebelas tahun lalu.
Saat itu, Marie-Catherine Vozenin, ahli radiologi dari Geneva University Hospital (HUG), dan timnya merilis penelitian penting.
Mereka memperkenalkan pendekatan baru dalam radioterapi: Flash.
Metode ini bekerja dengan menembakkan radiasi dosis tinggi dalam waktu kurang dari satu detik. Hasil uji coba awal menunjukkan metode ini dapat menghancurkan tumor pada hewan pengerat tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Para ahli internasional menyebutnya sebagai terobosan besar. Sejak saat itu, penelitian terus berkembang. Para ilmuwan mulai menguji metode Flash untuk mengobati berbagai jenis tumor pada hewan, hewan peliharaan, hingga manusia.
Metode ini dinilai revolusioner karena dapat mengatasi keterbatasan radioterapi konvensional. Biasanya, pasien kanker menjalani radioterapi bertahap selama delapan pekan untuk mengurangi efek samping.
Baca Juga: Ajak Orang Kaya Penyintas Kanker Berobat ke RSK Dharmais, Menkes: Bisa Subsidi Pasien Tak Mampu
Namun, dengan Flash, dosis radiasi yang sama bisa diberikan dalam waktu 2–5 menit saja. Sejak lama, para spesialis kanker meyakini peningkatan dosis radiasi dapat meningkatkan tingkat kesembuhan pasien.
Misalnya, sebuah riset menunjukkan bahwa dosis radiasi yang lebih tinggi bisa meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker paru-paru yang sudah menyebar ke otak.
Namun, ada kendala besar. Radiasi tidak hanya menargetkan sel kanker, tetapi juga bisa merusak sel sehat di sekitarnya.
Selama tiga dekade terakhir, mesin radiologi semakin canggih dan presisi. Tetapi, risiko kerusakan jaringan sehat masih sulit dihindari. Vozenin menyoroti contoh pada pengobatan tumor otak anak.
Radiasi memang bisa menyembuhkan, tetapi risikonya sangat tinggi.
“Pasien sering kali mengalami kecemasan dan depresi. Dampak radiasi juga bisa memengaruhi perkembangan otak dan menurunkan IQ secara drastis,” ujarnya.
“Kita bisa menyembuhkan mereka, tetapi harga yang dibayar terlalu mahal.”
Billy Loo, profesor radiologi dari Stanford University School of Medicine, menambahkan bahwa tumor tidak pernah benar-benar terpisah dari jaringan sehat.
Akibatnya, radiasi dosis tinggi sulit diterapkan tanpa risiko besar. Namun, penelitian terbaru menunjukkan metode Flash dapat meningkatkan dosis radiasi tanpa merusak jaringan sehat.
Dalam sebuah eksperimen, tikus yang diberikan dua kali radiasi dengan metode Flash tidak mengalami efek samping yang biasanya terjadi.
Studi lain menunjukkan bahwa hewan yang menerima Flash untuk pengobatan kanker kepala dan leher mengalami efek samping lebih ringan, seperti tidak mengalami kesulitan menelan atau penurunan produksi saliva.
Loo optimistis bahwa manfaat yang sama dapat diterapkan pada manusia.
“Metode Flash dapat mengurangi kerusakan jaringan sehat tanpa mengurangi efektivitas pengobatan tumor. Ini bisa menjadi revolusi dalam radioterapi,” katanya.
Selain itu, metode ini berpotensi mengurangi risiko kanker sekunder akibat paparan radiasi. Namun, hipotesis ini masih memerlukan bukti lebih lanjut.
Saat ini, uji coba Flash pada manusia semakin berkembang. Rumah Sakit Anak Cincinnati di Ohio, AS, bersiap mengujinya pada anak-anak dengan kanker yang telah menyebar ke tulang dada.
Sementara itu, dokter di Rumah Sakit Universitas Lausanne, Swiss, sedang melakukan uji coba kedua untuk pasien kanker kulit. Penelitian ini bukan hanya untuk membuktikan efektivitas Flash pada manusia, tetapi juga menentukan jenis radiasi terbaik untuk metode ini.
Jika berhasil, Flash bisa menjadi era baru dalam pengobatan kanker.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif