Suara.com - Dalam dunia kedokteran modern, terapi regeneratif menjadi salah satu terobosan paling menjanjikan, khususnya untuk penanganan cedera ginjal akut atau Acute Kidney Injury (AKI).
Selama ini, pasien dengan kerusakan ginjal akut sering kali dihadapkan pada pilihan pengobatan yang terbatas, sebagian besar hanya bersifat suportif tanpa benar-benar memperbaiki kerusakan pada jaringan ginjal.
"Kehadiran terapi berbasis stem cell dan secretome membuka peluang baru bagi proses penyembuhan yang lebih alami dan efektif," jelas Dr. dr. Jonny, Sp.PD-KGH., M.Kes., M.M., DCN., DABRM dalam Simposium Nasional Stem Cell dan Terapi Regeneratif yang digelar oleh RSPAD Gatot Soebroto bekerja sama dengan Kalbe Regenic Stem Cell.
Menurutnya, pemahaman tentang stem cell dan secretome menjadi kunci untuk melihat masa depan pengobatan ginjal yang lebih baik.
Stem cell atau sel punca adalah sel “induk” yang memiliki kemampuan untuk memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel, termasuk sel epitel tubular ginjal.
Ketika terjadi cedera pada ginjal, sel-sel ini berpotensi menggantikan jaringan yang rusak dan memicu proses penyembuhan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat stem cell tidak hanya berasal dari kemampuannya berubah menjadi sel baru, melainkan juga dari molekul-molekul bioaktif yang dihasilkannya, yang disebut secretome.
Secretome terdiri dari berbagai sitokin, faktor pertumbuhan, dan enzim yang berperan dalam komunikasi antar sel dan mempercepat regenerasi jaringan. Molekul-molekul ini bekerja layaknya “instruksi penyembuhan” yang dikeluarkan stem cell kepada jaringan sekitar.
Dalam secretome, terdapat pula exosome —kantong kecil berukuran nano yang membawa protein, RNA, dan faktor penyembuhan menuju sel target— yang berfungsi seperti kurir biologis. Dengan cara ini, stem cell dapat memperbaiki jaringan ginjal tanpa harus selalu ditanamkan secara langsung.
Baca Juga: Blackmores Pastikan Suplemen Mengandung Vitamin B6 di Indonesia Aman Dikonsumsi
"Pada pasien dengan AKI, terjadi kerusakan pada sel epitel tubular ginjal yang menyebabkan gangguan fungsi filtrasi dan penumpukan racun di dalam tubuh. Terapi berbasis stem cell dan secretome membantu memulihkan kondisi ini melalui beberapa mekanisme penting," tambah dia.
Selain memicu regenerasi sel baru, secretome dan exosome juga mengurangi peradangan, memperbaiki lingkungan mikro di sekitar jaringan ginjal, serta mengaktifkan jalur sinyal tertentu yang mempercepat pemulihan fungsi sel tubular.
Dengan kata lain, terapi ini tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga memberikan efek protektif terhadap kerusakan lanjutan.
Perkembangan riset di Indonesia dalam bidang ini juga cukup menggembirakan. Melalui kolaborasi antara Kalbe Regenic Stem Cell, RSPAD Gatot Soebroto, dan Universitas Gadjah Mada, sejumlah penelitian terus dilakukan untuk mengeksplorasi potensi terapi regeneratif.
Saat ini, pengembangan exosome dari mesenchymal stem cells (MSCs) sedang difokuskan untuk terapi penyakit ginjal kronik, sementara teknologi CRISPR-Cas9 juga mulai dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan stem cell dalam memodulasi sistem imun dan mempercepat proses penyembuhan.
Meski begitu, potensi besar ini tidak lepas dari pengawasan ketat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa penggunaan terapi stem cell dan secretome harus dilakukan sesuai standar keamanan dan melalui proses uji klinis yang ketat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien