- Indonesia mengadopsi teknologi radioterapi presisi Integrated CT-LINAC hasil kolaborasi strategis dengan Tiongkok untuk layanan kanker.
- Teknologi baru ini mengintegrasikan pencitraan CT dan terapi radiasi dalam satu sesi, meningkatkan akurasi pengobatan kanker.
- Adopsi teknologi ini menempatkan Indonesia sebagai pionir di Asia Tenggara dalam pemanfaatan radioterapi berbasis pencitraan real-time.
Integrasi radioterapi presisi dengan empati dan inovasi diharapkan mampu menghadirkan perawatan kanker yang lebih personal, efisien, dan berkelanjutan di tingkat nasional maupun regional.
Sementara itu, dokter spesialis onkologi radiasi dr. Denny Handoyo Kirana, SpOnkRad (K) menjelaskan bahwa teknologi Integrated CT-LINAC memungkinkan penyesuaian terapi di setiap sesi berdasarkan kondisi anatomi harian pasien.
Pendekatan ini membantu meningkatkan presisi radiasi sekaligus meminimalkan paparan pada jaringan sehat, sehingga risiko efek samping dapat ditekan tanpa mengorbankan hasil klinis.
Radioterapi Lebih Cepat, Presisi, dan Adaptif
Berbeda dengan radioterapi konvensional yang membutuhkan alur kerja berlapis dan waktu persiapan panjang, Integrated CT-LINAC menyederhanakan seluruh proses dalam satu sistem terintegrasi. Mulai dari simulasi CT, perencanaan terapi, hingga penyinaran dapat dilakukan tanpa memindahkan posisi pasien, dengan durasi sekitar 15–25 menit per sesi.
Teknologi CT-based Adaptive Radiotherapy (ART) memungkinkan rencana terapi disesuaikan secara real-time mengikuti perubahan anatomi pasien. Didukung kecerdasan buatan (AI), proses perawatan menjadi lebih cepat, akurat, dan personal—sebuah lompatan penting dalam pengobatan kanker modern.
Kolaborasi ini juga diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahaman pengembangan solusi AI di bidang kesehatan, yang diharapkan dapat mempercepat transformasi layanan medis berbasis data dan teknologi di Indonesia.
Dengan hadirnya teknologi radioterapi presisi ini, Indonesia tidak hanya memperkuat kapasitas layanan kanker nasional, tetapi juga mengambil peran strategis di kawasan Asia Tenggara dalam pengembangan pengobatan kanker berbasis presisi—sebuah langkah penting menuju layanan kesehatan yang lebih adil, modern, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Baca Juga: Akses Perawatan Kanker Lebih Mudah dengan Fasilitas Radioterapi Modern
Berita Terkait
Terpopuler
- 63 Kode Redeem FF Terbaru 21 Januari: Ada Groza Yuji Itadori, MP40, dan Item Jujutsu
- 5 Motor Bekas 6 Jutaan Cocok untuk Touring dan Kuat Nanjak, Ada Vixion!
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Toyota Vios Bekas Tahun Muda Pajaknya Berapa? Simak Juga Harga dan Spesifikasi Umumnya
- Mobil 7 Seater dengan Harga Mirip Mitsubishi Destinator, Mana yang Paling Bertenaga?
Pilihan
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
-
5 Rekomendasi HP Rp1 Jutaan RAM 8 GB Terbaik Januari 2026, Handal untuk Gaming dan Multitasking
-
Harda Kiswaya Jadi Saksi di Sidang Perkara Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
-
Bukan Mistis, Ini Rahasia di Balik Kejang Epilepsi: Gangguan Listrik Otak yang Sering Terabaikan
-
Ramadan dan Tubuh yang Beradaptasi: Mengapa Keluhan Kesehatan Selalu Datang di Awal Puasa?
-
Rahasia Energi "Anti-Loyo" Anak Aktif: Lebih dari Sekadar Susu, Ini Soal Nutrisi yang Tepat!
-
Sinergi Medis Indonesia - India: Langkah Besar Kurangi Ketergantungan Berobat ke Luar Negeri
-
Maia Estianty Gaungkan Ageing Gracefully, Ajak Dewasa Aktif Waspada Bahaya Cacar Api
-
Kolesterol Tinggi, Risiko Diam-Diam yang Bisa Berujung Stroke dan Serangan Jantung
-
Telapak Kaki Datar pada Anak, Normal atau Perlu Diperiksa?
-
4 Rekomendasi Minuman Diabetes untuk Konsumsi Harian, Mana yang Lebih Aman?
-
Apa Itu Food Genomics, Diet Berbasis DNA yang Lagi Tren