Entertainment / Film
Jum'at, 13 Februari 2026 | 19:15 WIB
Salah satu adegan film Na Willa garapan rumah produksi Visinema Pictures yang siap diputar di bisokop pada Lebaran 2026. [Instagram]
Baca 10 detik
  • Film live-action "Na Willa" garapan Ryan Adriandhy diadaptasi dari novel Reda Gaudiamo dengan latar Surabaya tahun 1960-an.
  • Meski diperankan Generasi Alpha, film ini tetap setia pada era 60-an untuk menjaga keajaiban pertumbuhan karakter dan interaksi sosial yang otentik.
  • Menampilkan aktor cilik baru hingga bintang senior seperti Ira Wibowo, film ini dijadwalkan tayang pada momen Lebaran 2026.

Suara.com - Setelah sukses memukau publik lewat film animasi "Jumbo", Ryan Adriandhy kembali menggarap film bertema anak-anak.

Tapi kali ini, Ryan Adriandhy tidak membuat film animasi, melainkan live action berjudul Na Willa.

Film Na Willa diadaptasi dari novel populer karya Reda Gaudiamo. Film ini menyoroti kehidupan Na Willa, seorang anak perempuan di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya pada era 1960-an.

Menariknya, tim produksi memutuskan untuk tetap setia menggunakan latar waktu tahun 1960.

Padahal, para pemeran utamanya merupakan anak-anak dari Generasi Alpha yang sangat akrab dengan gawai dan teknologi canggih.

Produser dari Visinema, Anggia Kharisma, menjelaskan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap karya tulis sang novelis aslinya.

"Kita ingin bersetia terhadap ceritanya," tegas Anggia Kharisma saat konferensi pers film Na Willa di Senayan, Jakarta Pusat pada Kamis, 12 Februari 2026.

Selain itu bagi Anggia Kharisma, kebahagiaan yang dialami karakter utama adalah sebuah hal yang bersifat universal bagi manusia. Sehingga, entah di era manapun, hal itu akan tetap sama.

"Problem keluarga ini juga nggak pernah berubah," lanjut Anggia Kharisma saat menjelaskan visi kreatif di balik layar film tersebut.

Baca Juga: Analisis Film Lebaran 2026, Mampukah Na Willa Mengulang Kesuksesan Fenomenal Jumbo?

Ryan Adriandhy kemudian menggambarkan perbedaan semisal cerita diubah menjadi masa kini.

"Kalau di zaman sekarang, (sekolah) oh ya udah aku zoom aja gitu kan, sudah selesai gitu, nggak ada pertumbuhan karakternya," kata Ryan Adriandhy.

Ia menambahkan, "Nggak ada jalan-jalan emak ke pasar, beli online semuanya nggak seru gitu. Jadi itu kita pertahankan gitu."

Karena itu dari sisi bahasa pun, Ryan Adriandhy menekankan perbedaan dengan anak-anak masa kini.

"Kalau kalau dialognya terlalu modern itu akan mengacaukan semuanya, jadi itu kami kerjakan bersama di situ," jelasnya.

Beruntung untuk menggambarkan suasana Surabaya di era 60-an, Ryan Adriandhy mendapat foto-foto lawas dari Reda Gaudiamo.

"Bu Reda ini memberikan Pandora Box dari foto-foto masa kecilnya Bu Reda gitu," tuturnya.

Sebab menurut Ryan Adriandhy, akan ada perbedaan jika orang dewasa menggambarkan suasana Surabaya 60-an dengan anak-anak.

"makanya kita sepakat, Na Willa ini bukan film anak umur 6 tahun di Surabaya tahun 60-an," kata Ryan Adriandhy.

"Film ini adalah Surabaya tahun 60-an dilihat anak umur 6 tahun. Gitu, jadi pembeda visi kreatifnya di sini," imbuhnya.

Film “Na Willa” mengangkat kisah anak perempuan berusia enam tahun yang memandang lingkungan kecilnya sebagai dunia penuh keajaiban.

Namun perubahan mulai terjadi ketika teman-temannya bersekolah dan realitas perlahan menggeser dunia bermainnya.

Hadir sebagai pemain, Luisa Adreena didampingi Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy.

Sementara jajaran aktor dewasa hadir Junior Liem, Melissa Karim hingga Ira Wibowo.

Penasaran seperti apa? Harap bersabar karena Film Na Willa baru akan tayang pada Lebaran tahun ini.

Load More