- Kurangnya edukasi dan fasilitas sanitasi menyebabkan satu dari tujuh remaja putri di Indonesia absen sekolah saat menstruasi.
- WINGS for UNICEF bersama Hers Protex menyelenggarakan program edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi bagi 2.000 siswi di sekolah tertentu.
- Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi agar remaja putri lebih percaya diri dan tetap aktif bersekolah.
Artinya, orang tua dan remaja perlu memperhatikan tanda-tanda pubertas secara keseluruhan, bukan hanya menstruasi.
Ia juga meluruskan mitos lama soal hubungan antara menstruasi dini dan menopause.
“Dulu ada anggapan kalau menstruasi pertama datang lebih cepat, menopause juga akan lebih cepat. Itu tidak sepenuhnya benar. Menopause lebih dipengaruhi kualitas sel telur dan faktor genetik,” ujarnya.
Tantangan Nyata: Minim Edukasi dan Fasilitas
Selain pemahaman yang belum merata, tantangan lain datang dari lingkungan. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan rasio toilet di sekolah masih jauh dari ideal—1:74 untuk siswi perempuan.
Kondisi ini membuat banyak remaja merasa tidak nyaman selama menstruasi, terutama saat harus mengganti pembalut atau menjaga kebersihan diri di sekolah.
Muhammad Zainal, Water Sanitation and Hygiene Specialist UNICEF Indonesia, menilai bahwa akses terhadap fasilitas dan edukasi harus berjalan beriringan.
“Tanpa lingkungan yang mendukung, remaja putri akan kesulitan menjalani aktivitas belajar secara optimal saat menstruasi,” ujarnya.
Dari Edukasi ke Kebiasaan Sehari-hari
Baca Juga: Viral! Cowok 18 Tahun Masuk IGD Ngaku Menstruasi, Dokter Ungkap Fakta Pilu di Baliknya
Program edukasi seperti yang dijalankan WINGS for UNICEF bersama Hers Protex mencoba menjembatani kesenjangan ini. Tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membangun kebiasaan.
Materi yang diberikan mencakup cara menjaga kebersihan selama menstruasi, memilih produk yang tepat, hingga pentingnya dukungan dari keluarga dan sekolah.
“Dengan pemahaman yang baik, remaja putri bisa lebih percaya diri dan tetap aktif saat menstruasi,” ujar Stella Eidelina dari WINGS Group.
Pendekatan ini penting karena kebersihan menstruasi bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan diri dan partisipasi sosial remaja.
Peran Orang Tua dan Sekolah Tak Bisa Digantikan
Di luar program dan kampanye, peran terbesar tetap ada di lingkungan terdekat: keluarga dan sekolah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
Pilihan
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
Terkini
-
Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter
-
Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya
-
AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi
-
Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi
-
Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?
-
Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar
-
Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker
-
Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat
-
Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat