- Tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius meninggal dunia akibat infeksi virus Andes di Samudra Atlantik baru-baru ini.
- WHO mengonfirmasi delapan kasus infeksi hantavirus di kapal tersebut, namun menilai risiko kesehatan global masih tetap rendah.
- Hantavirus bukanlah penyakit baru karena telah diidentifikasi sejak tahun 1950-an dan beredar luas pada populasi hewan pengerat.
Suara.com - Kasus Hantavirus yang menewaskan 3 orang penumpang kapal pesiar MV Hondius membuat heboh publik.
Menariknya di platform sosial media X, netizen juga dihebohkan dengan cuitan lama sebuah akun yang menuliskan tentang kemunculan Hantavirus.
Akun X @iamasoothsayer pada cuitan tertanggal 11 Juni 2022 menuliskan bahwa wabah Covid-19 akan berakhir pada 2023.
Setelahnya si pemilik akun menuliskan pada 2026 akan muncul hantavirus.
Sontak saja cuitan itu pun membuat netizen heboh. Salah satu akun X bahkan bertanya kepada Grok, aplikasi AI soal kebenaran cuitan tersebut.
Dalam penjelasannya, Grok menuliskan bahwa cuitan tersebut hanya kebetulan yang menyeramkan namun bukan ramalan nyata.
Faktanya, hantavirus bukan penyakit baru, melainkan virus yang telah lama ada dan beredar di populasi hewan pengerat (tikus) selama berdekade-dekade.
Dilansir dari sejumlah sumber, hantavirus pertama kali diidentifikasi secara signifikan selama Perang Korea (sekitar tahun 1950-an), di mana ribuan tentara jatuh sakit akibat demam berdarah yang kemudian diketahui disebabkan oleh virus ini.
Pada 1976, virus tersebut berhasil diisolasi oleh Dr. Ho Wang Lee pada tahun 1976.
Baca Juga: Ancaman Hantavirus! 3 Warga Kanada Dikarantina Usai Wabah Renggut 3 Nyawa di MV Hondius
Bahkan seperti dikutip dari Kemkes, hantavirus telah ada di Indonesia sejak tahun 1980-an, dengan seroprevalensi pada manusia mencapai sekitar 11,6%.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mengonfirmasi lima kasus hantavirus yang terkait dengan kematian penumpang di kapal pesiar Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik.
Selain lima kasus positif, tiga kasus lain masih berstatus suspek dan sedang dalam penyelidikan lebih lanjut.
Insiden ini terjadi di kapal berbendera Belanda tersebut yang tengah melakukan pelayaran dari Cape Verde menuju Pulau Tenerife di Spanyol.
Meski situasinya dinilai serius, WHO menyebut risiko terhadap kesehatan publik global masih rendah.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan pihaknya menerima laporan dari Inggris mengenai klaster penyakit pernapasan berat yang muncul di atas kapal.
Berita Terkait
-
Ancaman Hantavirus! 3 Warga Kanada Dikarantina Usai Wabah Renggut 3 Nyawa di MV Hondius
-
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Picu Kewaspadaan, 3 Penumpang Dilaporkan Meninggal
-
Ahli: Virus Hanta di Kapal MV Hondius Tidak Berisiko Menjadi Pandemi Baru Seperti Wabah COVID-19
-
WHO Tegaskan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi Baru
-
3 Orang Meninggal Dunia, Kasus Pertama Hantavirus Ditemukan di Israel
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Pakar UGM Tolak Kampus Ikut Kelola MBG, Khawatir Perguruan Tinggi Kehilangan Independensi
-
Rasa Haru Selimuti Rumah Duka Haerul Saleh, Peti Jenazah Diantar Para Pimpinan BPK
-
Lantai 4 Rumah Anggota BPK Haerul Saleh Hangus 80 Persen
-
Kesaksian ART Selamat dalam Kebakaran yang Menewaskan Anggota BPK
-
Curhat ASN soal WFH Setiap Jumat: Bisa Hemat Rp 400 Ribu Sebulan tapi Banyak Distraksi
-
Waspadai Hantavirus, DPR Desak Pemerintah Perketat Bandara dan Pelabuhan
-
Tantangan Iklim Makin Kompleks, Pendekatan Interdisipliner Dinilai Jadi Kunci
-
Kisah Penjaga Perlintasan di Jogja: Lari Kibarkan Bendera Merah Hentikan Kereta saat Ada Mobil Mogok
-
Tewas Dalam Kebakaran, Jenazah Anggota BPK Haerul Saleh Dimakamkan di Kolaka
-
Mampu Serap Banyak Karbon, Lahan Gambut Jadi Fokus Penelitian Global Untuk Perkuat Kebijakan