- Dr. Sabrina Ngaserin menyatakan deteksi dini melalui skrining medis sangat krusial untuk meningkatkan peluang kesembuhan kanker payudara hingga 99%.
- Teknologi bedah modern saat ini memungkinkan pengobatan kanker payudara tanpa harus menghilangkan seluruh payudara atau mengurangi sensasi fisik pasien.
- Peningkatan kasus kanker pada usia di bawah 50 tahun menuntut kesadaran skrining lebih awal bagi generasi muda dan masyarakat.
Generasi Milenial Wajib Waspada: Kanker Bukan Cuma Penyakit Lansia
Ada sebuah fenomena global yang cukup mengejutkan. Data Global Burden of Diseases menunjukkan bahwa kasus kanker onset dini pada orang dewasa di bawah usia 50 tahun meningkat sebesar 79% dalam kurun waktu 30 tahun terakhir.
Banyak wanita di usia 20-an atau 30-an merasa terlalu muda untuk terkena kanker payudara. Akibatnya, ketika muncul gejala, mereka cenderung mengabaikannya.
Bagi wanita muda yang terdiagnosis kanker payudara, kemungkinan adanya faktor mutasi genetik (seperti gen BRCA1 dan BRCA2) jauh lebih tinggi. Jika seseorang memiliki mutasi gen ini, risiko terkena kanker payudara melonjak hingga 60%–80%. Mengetahui status genetik lewat genetic testing (tes darah sederhana) sangat penting agar dokter dapat merancang langkah pencegahan jangka panjang, tidak hanya untuk pasien tetapi juga untuk anggota keluarga lainnya.
Kupas Tuntas Mitos vs Fakta Seputar Kanker Payudara
Media sosial sering kali dipenuhi informasi simpang siur yang memicu kepanikan moral. Dr. Sabrina membedahnya berdasarkan sains dan logika beberapa di antaranya:
1. Deodoran dan Bra Berkawat Menyebabkan Kanker?
MITOS. Tidak ada bukti ilmiah yang valid yang menyatakan bahwa penggunaan deodoran, antiperspiran, atau bra berkawat dapat memicu kanker payudara.
2. Gula Akan 'Memberi Makan' Sel Kanker?
Baca Juga: Gelar Laga Cepak Bola, Yayasan Pita Kuning Wujudkan Impian Pasien Kanker Anak
MITOS. Gula tidak secara langsung memberi makan sel kanker secara spesifik. Namun, konsumsi gula berlebih memicu obesitas. Jaringan lemak berlebih inilah yang berbahaya karena dapat memproduksi hormon estrogen ekstra, yang menjadi bahan bakar bagi beberapa jenis kanker payudara.
3. Benjolan yang Terasa Sakit Pasti Kanker?
MITOS. Kebalikannya! Mayoritas kanker payudara pada tahap awal tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali (painless). Benjolan yang terasa nyeri mendadak biasanya justru berkaitan dengan kondisi non-kanker (jinak), seperti kista yang membesar atau infeksi (mastitis). Jadi, jangan menunggu sampai terasa sakit baru pergi ke dokter.
4. Pria Tidak Bisa Terkena Kanker Payudara?
MITOS. Pria juga memiliki jaringan payudara, sehingga mereka tetap bisa terkena kanker payudara (mencakup sekitar 1% dari total kasus kanker payudara global). Sayangnya, karena kurangnya kesadaran, pria sering kali terdiagnosis pada stadium yang sudah sangat lanjut.
5. Apakah Penderita Kanker Payudara Harus Pantang Makan Tempe/Tahu (Kedelai)?
MITOS. Kedelai mengandung fitoestrogen, namun mengonsumsinya dalam batas wajar sehari-hari (seperti makan tempe atau tahu) sama sekali tidak berbahaya dan tidak perlu dihindari secara ekstrem.
Skrining Mandiri vs Skrining Medis: Apa Bedanya?
Mulai usia 20 tahun, setiap wanita disarankan melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) sebulan sekali untuk mengenali kondisi normal payudaranya. Namun, SADARI saja tidak cukup.
1. Mammogram: Merupakan metode skrining terbaik yang paling akurat karena mampu mendeteksi kanker dalam bentuk microcalcification (bintik kalsium kecil)—bahkan sebelum benjolan itu terbentuk fisik.
2. USG Payudara (Ultrasonografi): Menggunakan gelombang suara dan biasanya digunakan untuk mengevaluasi benjolan yang sudah terbentuk. USG bersifat saling melengkapi dengan mammogram, bukan menggantikannya.
Menyembuhkan Manusia, Bukan Sekadar Memotong Sel Kanker
Kanker payudara tidak hanya menyerang fisik, melainkan juga mengguncang emosional, finansial, hubungan asmara dengan pasangan, hingga kepercayaan diri seorang wanita.
Oleh karena itu, keberadaan Support Group (Kelompok Pendukung) memegang peranan yang luar biasa krusial. Bertemu dengan sesama penyintas (survivor) membuat pasien baru tidak merasa sendirian. Mereka bisa berbagi cerita tentang kecemasan akan kekambuhan, berdiskusi tentang pilihan operasi, hingga saling menguatkan dalam mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Dukungan ini bahkan sangat dibutuhkan oleh para suami dan anak-anak yang mendampingi.
"Edukasi tentang kanker payudara ini bukan hanya tugas para wanita, melainkan tugas para pria dan seluruh komunitas masyarakat. Kita harus bergerak bersama untuk mematahkan stigma negatif ini," tutup dr. Sabrina.
Ingat, mendeteksi dini bukan berarti Anda sedang 'mencari-cari penyakit', melainkan sebuah langkah berani untuk melindungi masa depan dan menyelamatkan hidup Anda sendiri.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?
-
Hoops + Health Youth Basketball Festival 2026 Dorong Generasi Muda Hidup Sehat & Melek Finansial