- Gangguan refraksi mata sering menghambat aktivitas harian karena ketidakpraktisan penggunaan kacamata dan lensa kontak bagi banyak orang.
- RS Mata JEC @ Menteng menawarkan prosedur CoZi LASIK menggunakan teknologi laser modern untuk memperbaiki ketajaman penglihatan pasien.
- Tindakan LASIK memerlukan pemeriksaan menyeluruh dan seleksi ketat untuk memastikan kondisi mata pasien memenuhi syarat medis yang aman.
Suara.com - Penglihatan menjadi salah satu indera terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Sekitar 80 persen informasi yang diterima manusia berasal dari mata, sehingga kualitas penglihatan berperan besar dalam mendukung produktivitas, mobilitas, hingga keselamatan saat beraktivitas.
Namun, masih banyak orang yang hidup dengan gangguan refraksi seperti rabun jauh (miopia), rabun dekat (hiperopia), maupun mata silinder (astigmatisme). Kondisi ini tidak hanya membuat penglihatan menjadi kabur, tetapi juga dapat mengganggu kenyamanan saat bekerja, belajar, mengemudi, hingga berolahraga.
Selama ini, kacamata dan lensa kontak menjadi solusi yang paling umum digunakan. Meski efektif membantu memperjelas penglihatan, keduanya tidak selalu praktis, terutama bagi mereka yang memiliki gaya hidup aktif. Kacamata dapat mengganggu saat berolahraga atau berkabut ketika menggunakan masker, sementara lensa kontak memerlukan perawatan rutin dan pada sebagian orang dapat memicu mata kering.
Karena itu, prosedur bedah refraktif seperti LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis) menjadi salah satu pilihan yang semakin banyak dipertimbangkan. LASIK bekerja dengan menggunakan laser untuk membentuk kembali kornea agar cahaya dapat difokuskan secara tepat ke retina, sehingga membantu mengurangi ketergantungan terhadap kacamata maupun lensa kontak.
Meski demikian, LASIK bukanlah prosedur yang dapat dilakukan oleh semua orang. Pemeriksaan menyeluruh menjadi tahap penting untuk memastikan kondisi mata pasien memenuhi syarat dan aman menjalani tindakan.
Dokter Spesialis Mata RS Mata JEC @ Menteng, dr. Devina Nur Annisa, Sp.M(K), menjelaskan bahwa tujuan LASIK tidak hanya memperbaiki ketajaman penglihatan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien.
"Bagi banyak orang, kacamata dan lensa kontak memang membantu, tetapi dalam aktivitas tertentu bisa terasa kurang praktis, misalnya saat berolahraga, bepergian, bekerja dalam waktu panjang, atau ketika lensa kontak memicu rasa kering dan tidak nyaman. LASIK hadir sebagai salah satu pilihan koreksi refraksi yang dapat membantu pasien melihat lebih jelas dan beraktivitas lebih bebas. Namun, yang terpenting adalah memastikan pasien memahami manfaat, proses, kriteria, serta potensi efek sampingnya melalui konsultasi dan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu," ujar dr. Devina.
Sebagai bagian dari layanan koreksi refraksi, RS Mata JEC @ Menteng menghadirkan CoZi LASIK, yang menggabungkan pemeriksaan mata secara komprehensif dengan teknologi laser modern untuk membantu menghasilkan tindakan yang lebih presisi.
Sebelum tindakan dilakukan, setiap pasien menjalani lima tahap pemeriksaan pra-LASIK, meliputi pemeriksaan refraksi, pentacam, biometry, keratograph, dan fundus. Pemeriksaan ini bertujuan menilai ketajaman penglihatan, bentuk dan ketebalan kornea, kondisi permukaan mata, hingga kesehatan retina sehingga dokter dapat menentukan apakah pasien merupakan kandidat yang sesuai.
Baca Juga: Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
Dari sisi teknologi, CoZi LASIK memanfaatkan kombinasi Ziemer Femto LDV Z4 dan Alcon WaveLight Allegretto EX500. Teknologi femto laser digunakan untuk membuat flap kornea tanpa pisau mekanik, sedangkan excimer laser membantu membentuk ulang kornea dengan presisi tinggi. Sistem ini juga dilengkapi eye tracker yang mampu memantau pergerakan mata secara real-time selama tindakan berlangsung.
Dokter Spesialis Mata RS Mata JEC @ Menteng, dr. Ferdiriva Hamzah, Sp.M(K), menegaskan bahwa keberhasilan LASIK modern sangat bergantung pada proses evaluasi awal dan teknologi yang digunakan.
"LASIK modern membutuhkan perencanaan yang matang. Karena itu, pemeriksaan pra-LASIK menjadi fondasi yang sangat penting untuk menilai apakah pasien merupakan kandidat yang tepat," jelasnya.
Secara umum, prosedur LASIK berlangsung sekitar 10–20 menit untuk kedua mata. Setelah tindakan, pasien tetap perlu menjalani masa pemulihan dengan mengikuti anjuran dokter, seperti menggunakan obat tetes mata sesuai resep, menjaga kebersihan mata, menghindari penggunaan riasan mata sementara waktu, serta menunda aktivitas berat hingga kondisi mata benar-benar pulih.
Meski dikenal memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, LASIK tetap memerlukan seleksi pasien yang ketat. Kandidat ideal umumnya berusia minimal 18–20 tahun, memiliki ukuran kacamata yang stabil setidaknya selama satu tahun terakhir, ketebalan kornea yang memadai, serta tidak memiliki gangguan mata tertentu seperti infeksi berat, glaukoma, gangguan retina, maupun mata kering berat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
Terkini
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?