- Glaukoma adalah penyakit saraf mata progresif penyebab kebutaan tertinggi kedua yang sering tidak terdiagnosis hingga kerusakan parah.
- Penyakit ini merusak saraf optik akibat peningkatan tekanan bola mata, menyerang siapa saja namun dominan di atas 40 tahun.
- Deteksi dini melalui pemeriksaan seperti tonometri dan OCT sangat penting untuk mengontrol perkembangan penyakit dan mencegah kebutaan.
Suara.com - Glaukoma adalah penyakit saraf mata progresif yang kerap berkembang tanpa gejala, sehingga sering baru terdeteksi ketika kerusakan penglihatan sudah parah. Penyakit ini menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak, dengan prevalensi di Indonesia mencapai 0,46% atau sekitar 4–5 orang per 1.000 penduduk.
Diperkirakan sekitar 80–90% kasus tidak terdiagnosis, sementara lebih dari 3,6 juta orang di dunia telah kehilangan penglihatan akibat glaukoma. Jumlah ini diprediksi meningkat menjadi 5,5 juta pada 2040 jika tidak ada intervensi yang memadai.
Glaukoma menyerang saraf optik secara bertahap, sering kali disebabkan oleh peningkatan tekanan bola mata yang merusak serabut saraf. Tekanan normal bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg, namun ketika meningkat atau saraf optik menjadi rentan, kerusakan dapat terjadi hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan kebutaan permanen.
Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, namun lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun. Glaukoma bawaan juga dapat terjadi pada bayi dengan angka sekitar 1 dari 10.000–20.000 kelahiran.
Jenis-Jenis Glaukoma
- Glaukoma Primer Sudut Terbuka (Primary Open-Angle Glaucoma): Jenis paling umum, berkembang perlahan dan biasanya tidak menimbulkan gejala. Penyempitan penglihatan terjadi dari sisi samping sehingga kerap tidak disadari hingga stadium lanjut.
- Glaukoma Primer Sudut Tertutup (Angle-Closure Glaucoma): Bisa muncul tiba-tiba dengan gejala nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, dan penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk darurat medis yang memerlukan penanganan segera.
- Glaukoma Kongenital: Terjadi pada bayi atau anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.
- Glaukoma Sekunder: Disebabkan kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.
Deteksi Dini: Kunci Pencegahan Kebutaan
Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service JEC Group, menekankan, “Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan rutin. Jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan kabur, mual, atau nyeri mata, segera periksakan diri.”
Deteksi dini bisa dilakukan melalui beberapa pemeriksaan, antara lain:
- Tonometri: Mengukur tekanan bola mata.
- Optical Coherence Tomography (OCT): Memeriksa struktur saraf optik.
- Visual Field Test/Perimetri: Menilai lapang pandang pasien.
- Gonioskopi: Memeriksa sudut drainase mata.
Dengan diagnosis tepat dan pemantauan rutin, perkembangan glaukoma bisa dikontrol sehingga kualitas penglihatan tetap terjaga.
Baca Juga: Waspada, 10 Kebiasaan Ini Bisa Mengganggu Penglihatan dan Rusak Kesehatan Mata Anda
Terapi dan Penanganan
- Terapi Medikamentosa: Obat tetes mata untuk menurunkan tekanan bola mata; obat oral juga dapat digunakan jika tekanan sangat tinggi.
- Terapi Laser: Selective Laser Trabeculoplasty (SLT) meningkatkan aliran keluar cairan mata, sedangkan Laser Peripheral Iridotomy (LPI) mencegah peningkatan tekanan pada glaukoma sudut tertutup.
- Tindakan Operasi: Untuk kasus yang tidak responsif, prosedur seperti Trabeculectomy, Glaucoma Drainage Device, atau Minimally Invasive Glaucoma Surgery (MIGS) dapat dilakukan untuk menurunkan tekanan bola mata secara efektif. Operasi katarak juga dapat membantu memperbaiki aliran cairan mata pada beberapa pasien.
Edukasi dan Skrining
Dalam rangka Pekan Glaukoma Sedunia 2026 (8–14 Maret), JEC Group memperluas edukasi dan skrining di sejumlah kota, termasuk seminar publik, talkshow radio, konten video edukasi, serta pemeriksaan tekanan bola mata dan kesehatan mata dasar gratis. Selain itu, seminar ilmiah bagi tenaga kesehatan juga digelar untuk meningkatkan pemahaman deteksi dini, terapi, dan penanganan glaukoma.
Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), Dokter Mata Subspesialis Glaukoma JEC Group, menambahkan, “Glaukoma sering disebut silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi perlahan tanpa gejala. Pemeriksaan rutin sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan riwayat keluarga, usia di atas 40 tahun, atau penderita penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks
-
Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin
-
Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala
-
Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak
-
Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami
-
Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter
-
Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya
-
AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi
-
Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi