- Kementerian Kesehatan mencatat puluhan ribu kasus DBD pada 2026 dan mendorong pencegahan lewat Gerakan PSN 3M+ di sekolah.
- Pemerintah bersama Enesis Group mengadakan edukasi pencegahan DBD bagi siswa, guru, dan orang tua di beberapa sekolah dasar Jakarta.
- Kolaborasi lintas sektor dari tingkat sekolah hingga pemerintah ditargetkan mendukung tercapainya Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada 2030.
Suara.com - Sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD), terutama karena kelompok usia sekolah masih menjadi salah satu yang paling terdampak. Di tengah masih ditemukannya puluhan ribu kasus DBD sepanjang 2026, pemerintah mendorong penguatan kebiasaan hidup bersih melalui Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M+ sejak usia dini.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sepanjang 2025 tercatat 161.752 kasus DBD dengan 673 kematian. Sementara hingga pertengahan 2026, jumlah kasus mencapai 39.672 dengan 105 kematian. Kelompok usia 15-44 tahun menyumbang kasus terbanyak, sedangkan kematian paling banyak terjadi pada anak usia 5-14 tahun.
Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, yang diwakili Dr. Agus Handito, mengatakan keberhasilan pengendalian dengue tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Menurutnya, dunia pendidikan memiliki posisi penting dalam membentuk perilaku pencegahan sejak dini.
"Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan," ujar Agus dalam peringatan ASEAN Dengue Day 2026 di Jakarta.
Ia menilai sekolah menjadi ruang yang efektif untuk menanamkan kebiasaan menjalankan Gerakan PSN 3M+, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Menurut Agus, kebiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga terbawa ke rumah dan lingkungan sekitar sehingga pencegahan DBD dilakukan secara berkelanjutan.
Sebagai bagian dari peringatan ASEAN Dengue Day 2026, Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dinas Pendidikan Jakarta, dan Enesis Group melalui merek Soffell menggelar edukasi interaktif mengenai Gerakan 3M+ di sejumlah sekolah dasar di Jakarta, antara lain SDN 03 dan 05 Tanah Tinggi, SDN 20 Utan Kayu Selatan, serta SDN 02 Mampang Prapatan.
Kegiatan tersebut melibatkan guru, siswa, dan orang tua sebagai upaya memperluas pemahaman mengenai pencegahan DBD di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Head of Human Resources, Services and Public Relations Enesis Group, RM Ardiantara, mengatakan pihaknya berharap edukasi tersebut dapat mendorong Gerakan 3M+ menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar kampanye sesaat.
"Kami berharap Gerakan 3M+ tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat," ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor, pemerintah menargetkan upaya pencegahan yang dimulai dari sekolah dapat mendukung target Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada 2030.