Kanker Payudara dan Serviks Bisa Diam-Diam Berkembang, Jangan Tunggu Sampai Muncul Gejala!

Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:15 WIB
Foto oleh Anna Shvets dari Pexels
  • Kementerian Kesehatan mencatat puluhan ribu kasus baru kanker payudara dan serviks pada tahun 2020 di Indonesia.
  • Dokter spesialis menyatakan kanker payudara dan serviks tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala atau keluhan.
  • Bethsaida Hospital menyediakan layanan kesehatan terintegrasi untuk skrining kanker dan pemeriksaan kesehatan perempuan secara komprehensif.

Suara.com - Merasa sehat sering kali membuat seseorang menganggap pemeriksaan kesehatan belum diperlukan. Padahal, ada sejumlah penyakit serius yang dapat berkembang tanpa memberikan tanda berarti pada tahap awal. 

Kondisi inilah yang membuat perempuan perlu lebih memperhatikan pemeriksaan rutin, termasuk untuk kanker payudara dan kanker serviks. Kedua jenis kanker tersebut masih menjadi ancaman kesehatan perempuan di Indonesia. 

Kementerian Kesehatan RI mencatat 68.858 kasus baru kanker payudara pada 2020, menjadikannya kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia. Sementara itu, lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdeteksi setiap tahun, dengan sekitar 70 persen kasus ditemukan ketika sudah memasuki stadium lanjut.

Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kanker bukan hanya mengenai pengobatan, tetapi juga keterlambatan menemukan penyakit. Ketika kanker ditemukan lebih awal, peluang untuk mendapatkan penanganan yang lebih optimal menjadi lebih besar.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun mengingatkan masyarakat agar tidak takut menjalani skrining kanker.

“Kanker sekarang itu bisa disembuhkan. Cancer is curable. Jadi tidak usah takut bahwa, aduh, kalau kena kanker lebih baik saya tidak diperiksa saja,” ujarnya.

Jangan Menunggu Benjolan atau Keluhan

Salah satu hal yang masih belum banyak diketahui adalah kanker payudara pada tahap awal tidak selalu menimbulkan gejala. Karena itu, menunggu munculnya benjolan atau rasa nyeri baru kemudian memeriksakan diri dapat membuat deteksi dilakukan lebih terlambat.

“Banyak pasien baru datang untuk memeriksakan diri ketika sudah merasakan benjolan, nyeri, atau perubahan pada payudara, padahal kanker payudara pada stadium awal sering kali belum menimbulkan keluhan yang jelas,” jelas dr. Bajuadji, Sp.B(K) Onk.

Menurutnya, pemeriksaan sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika sudah muncul keluhan. Skrining perlu disesuaikan dengan usia dan faktor risiko masing-masing perempuan.

“Oleh karena itu, skrining rutin dan pemeriksaan yang sesuai dengan usia maupun faktor risiko menjadi langkah penting untuk membantu mendeteksi kelainan sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan optimal,” lanjutnya.

Hal serupa juga berlaku pada kanker serviks. Perempuan yang tidak mengalami keluhan bukan berarti sepenuhnya terbebas dari risiko. Pemeriksaan rutin justru berperan untuk menemukan perubahan pada leher rahim sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

“Kanker serviks umumnya tidak menimbulkan keluhan yang khas pada tahap awal. Karena itu, skrining rutin seperti Pap Smear atau pemeriksaan HPV sangat penting untuk mendeteksi perubahan sel sedini mungkin, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut,” ujar dr. Denny Sanjaya, Sp.OG, Subsp. Onk.

Pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan perempuan karena deteksi dapat dilakukan sebelum gejala muncul.

Kesehatan Perempuan Perlu Dipantau di Setiap Tahap Kehidupan

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com