Dokter Sebut Lemak di Dalam Rongga Perut Paling Berbahaya dari Bagian Tubuh Lain, Kenapa?

Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:24 WIB
ilustrasi lemak di perut. (pexels/Towfiqu barbhuiy)
  • Profesor Em Yunir menyebut lemak di rongga perut berbahaya dibanding bagian tubuh lain.
  • Menurutnya, lemak di rongga perut dapat memicu penyakit kronis.
  • Karena itu, penurunan berat badan dapat difokuskan dari pengurangan lemak perut.

Suara.com - Dokter mengingatkan, dari semua jenis lemak yang ada di tubuh, lemak perut paling berbahaya lantaran mengandung banyak hormon ‘jahat’ yang berisiko menyebabkan penyakit kronis.

Fakta ini diungkap Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, yang menyebutkan bahwa fokus utama pengurangan berat badan yaitu mengurangi lemak di rongga perut.

“Jadi, lemak di rongga perut itu lebih jahat dari lemak di tempat lain. Karena dia tadi menghasilkan suatu, dia bukan hanya lemak kumpul terus beratnya jadi tinggi, tapi dia mengandung banyak hormon lain, hormonnya jahat,” ujar Prof. Em Yunir saat peluncuran kampanye edukasi kesehatan Berani Bicara Berat yang digagas PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), Jumat (14/8/2026).

Profesor yang juga Konsultan Endokrin, Metabolik, dan Diabetes RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo itu mengatakan, pengurangan lemak di rongga perut sangat vital untuk mengurangi sel mediator pemicu penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, hingga kolesterol.

Prof. Em Yunir saat peluncuran kampanye edukasi kesehatan Berani Bicara Berat yang digagas PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), Jumat (14/8/2026). [Suara.com/Dini Afrianti]

“Nah, itu yang kita harus atasi, bagaimana mengurangi komponen lemak di rongga perut itu supaya sel-sel mediator yang jahat itu bisa kita turunkan. Karena kalau tidak kita turunkan, kita akan bergerak terus ke depan (bertambah),” papar Prof. Em Yunir.

Prof. Em Yunir juga mengingatkan, dalam program penurunan berat badan jangan hanya berfokus pada berat badan keseluruhan, melainkan harus memeriksa indeks massa tubuh (IMT) untuk mengetahui komposisi tubuh, termasuk kadar air, lemak, hingga otot.

“Berapa lemak yang ada, terus level kita berapa normalnya, terus ototnya berapa, jangan-jangan otot kita kurang karena berat badan yang tinggi itu bukan karena komponen ototnya, tapi karena lemaknya,” paparnya.

Lebih lanjut, jika sudah diketahui fokus lemak di beberapa bagian, hal tersebut bisa menjadi sasaran sekaligus membantu memilih perawatan yang tepat, termasuk program perubahan gaya hidup yang sesuai dengan hasil pemeriksaan tersebut.

“Jadi, artinya nanti kita bisa mengatur treatment-nya yang lebih tepat, yang mana yang mau dikurangi, mana yang mau ditambah,” pungkas Prof. Em Yunir.

Di sisi lain, Chief Operating Officer Commercialization PT APL, Ay Lie Widjaja, mengatakan penurunan berat badan bukan lagi dianggap sebagai gaya hidup, terlebih jika sudah berada di tahap obesitas, maka diperlukan penanganan yang komprehensif. Termasuk dengan pemberdayaan masyarakat yang melibatkan edukasi dan sains.

“Kami percaya bahwa sudah saatnya kita membangun kembali percakapan mengenai berat badan dan mengubah secara mendasar cara kita memandang obesitas. Tidak seorang pun seharusnya menghadapi tantangan obesitas seorang diri,” timpal Ay Lie.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com