Teknologi dan Kolaborasi Dokter Jadi Kunci Penanganan Penyakit Saraf dan Otak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 11:44 WIB
Mayapada Neuro Connect 2026 di Jakarta, Sabtu (24/10/2026). (Dok. Ist)
BACA 10 DETIK
  • Mayapada Hospital Jakarta Selatan menyelenggarakan Mayapada Neuro Connect 2026 pada 24–25 Oktober 2026 untuk dokter spesialis.
  • Kegiatan tersebut membahas pentingnya kolaborasi multidisiplin serta inovasi teknologi medis dalam penanganan berbagai penyakit saraf.
  • Para ahli mengingatkan bahwa gangguan tidur dan hipertensi merupakan faktor risiko utama gangguan kesehatan saraf.

Suara.com - Mayapada Hospital Jakarta Selatan mengangkat pentingnya inovasi dan kolaborasi multidisiplin dalam penanganan penyakit saraf dan otak melalui Mayapada Neuro Connect 2026 yang berlangsung pada 24–25 Oktober 2026.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan simposium untuk membahas perkembangan ilmu kedokteran, tetapi juga workshop bedah saraf yang memberikan kesempatan kepada dokter spesialis untuk mempraktikkan teknik operasi pada kadaver.

Mengusung tema Comprehensive Neurology Update: Advancing Neurological Care Through Innovation and Multidisciplinary Collaboration, kegiatan ini diikuti lebih dari 2.000 dokter dari berbagai wilayah di Indonesia dan menghadirkan 22 dokter spesialis serta subspesialis Mayapada Hospital Jakarta Selatan sebagai narasumber.

Chief Operating Officer (COO) Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Joyce Rahayu Kusumariyadi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen rumah sakit untuk mendorong pertukaran ilmu dan teknologi medis, sekaligus memperkuat kolaborasi antardokter dalam menangani kasus kompleks.

Menurut Joyce, Mayapada Neuro Connect tidak hanya berfokus pada penyampaian teori melalui simposium, tetapi juga memberikan ruang pembelajaran langsung melalui workshop.

“Ini adalah transfer knowledge. Kenapa dilakukan kadaver, karena memang belum dilakukan selama live surgery,” ujar Joyce saat menjelaskan tujuan workshop bedah saraf dalam Mayapada Neuro Connect 2026 di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Ia menambahkan, kolaborasi multidisiplin menjadi salah satu keunggulan pendekatan pelayanan di Mayapada Hospital. Dengan menghubungkan dokter dari berbagai spesialisasi, penanganan pasien diharapkan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi sesuai kebutuhan klinis.

Joyce juga menegaskan komitmen rumah sakit untuk menghadirkan layanan kesehatan berstandar internasional, termasuk melalui kesiapan layanan kegawatdaruratan stroke selama 24 jam.

Gangguan Tidur Bisa Berdampak pada Kesehatan Saraf

Salah satu isu kesehatan yang perlu mendapat perhatian adalah gangguan tidur. Kebiasaan begadang, tidur tidak teratur, hingga mendengkur yang disertai gangguan pernapasan dapat memengaruhi kesehatan tubuh dan meningkatkan risiko sejumlah penyakit.

Dokter Spesialis Neurologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Manfaluthy Hakim, Sp.N-Sub.Sp. E.N.K(K), menjelaskan bahwa tidur bukan sekadar proses pasif untuk beristirahat. Ketika seseorang tidur, otak tetap menjalankan berbagai fungsi penting yang berkaitan dengan pemulihan tubuh dan pengolahan memori.

Menurutnya, tidur yang baik dapat dinilai dari durasi yang cukup, tubuh terasa segar saat bangun, serta tidak muncul keluhan seperti sakit kepala atau pusing setelah tidur.

Ia menyebutkan durasi tidur sekitar 6–8 jam sebagai patokan yang disampaikannya dalam diskusi tersebut. Namun, kebutuhan tidur dapat berbeda menurut usia dan kondisi kesehatan seseorang.

Salah satu gangguan yang perlu diwaspadai adalah sleep apnea, yaitu kondisi ketika pernapasan berhenti dan kembali berulang selama tidur. Gangguan ini dapat menyebabkan kadar oksigen dalam tubuh menurun dan mengganggu kualitas tidur.

“Dalam jangka waktu panjang, bagaimana kekurangan oksigen atau sleep apnea saat tidur, itu satu merasa brain fog. Terus yang kedua mudah lelah,” jelas dr. Manfaluthy.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com