Saat Pengobatan Anak Mengharuskan Keluarga Jauh dari Rumah, Dukungan Jadi Kekuatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 11:18 WIB
Saat Pengobatan Anak Mengharuskan Keluarga Jauh dari Rumah, Dukungan Jadi Kekuatan (Dok. Yayasan Ronald McDonald House Indonesia)
BACA 10 DETIK
  • Angeline asal Rembang dan Keenan dari Sumbawa mendapatkan fasilitas rumah singgah saat menjalani pengobatan medis jauh dari rumah.
  • Yayasan Ronald McDonald House Indonesia telah mendampingi lebih dari 22.500 keluarga pasien anak melalui penyediaan rumah singgah selama 15 tahun.
  • Fasilitas rumah singgah tersebut memberikan dukungan tempat tinggal dan rasa kebersamaan bagi keluarga pasien anak yang sedang berjuang.

Suara.com - Ketika anak sakit dan harus menjalani pengobatan jauh dari rumah, perjuangan orang tua tidak berhenti di ruang perawatan. Mereka juga harus menghadapi jarak, biaya hidup, kehilangan penghasilan, hingga rasa lelah yang datang bersamaan.

Bagi sebagian keluarga, bisa tetap berada di sisi anak selama menjalani pengobatan menjadi perjuangan tersendiri. Hal itu pula yang dirasakan keluarga Angeline, anak berusia 10 tahun asal Rembang, Jawa Tengah.

Angeline didiagnosis Guillain-Barré Syndrome (GBS) pada Februari 2026. Kondisinya sempat kritis hingga harus dirawat di ICU dan menggunakan ventilator. Karena membutuhkan penanganan lebih lanjut, Angeline kemudian dirujuk ke RSAB Harapan Kita, Jakarta.

Jarak yang jauh membuat situasi semakin berat. Ayah Angeline yang saat itu bekerja sebagai nelayan di Afrika bahkan memutuskan pulang demi bisa mendampingi keluarganya. Ia menempuh perjalanan laut selama 14 hari dengan satu keyakinan.

"Anak dan istri saya lebih membutuhkan kehadiran saya, bukan hanya uang," ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, keluarga Angeline kemudian mendapat tempat untuk tinggal sementara melalui Rumah Singgah Yayasan Ronald McDonald House Indonesia. Bagi sang ibu, Ayu, dukungan yang diterima bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga rasa memiliki keluarga baru selama melewati masa sulit.

“Di luar ekspektasi kami, semua stafnya sangat peduli, sampai petugas kebersihan juga sudah seperti keluarga sendiri. Tidak ada uang pun tidak apa-apa, yang penting anak bisa sehat. Kebersamaan keluarga sangatlah berharga,” tutur Ayu.

Angeline pun merasakan hal yang sama. Berada jauh dari kampung halaman sempat membuatnya merasa sendiri. Namun, suasana yang ia temukan di rumah singgah membuatnya lebih tenang.

“Kalau di kampung merasa sendiri, tapi di rumah singgah merasa banyak yang menemani dan tenang. Rasanya lebih aman dan terjaga," ucapnya.

Cerita serupa datang dari keluarga Keenan, anak berusia 4 tahun asal Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, yang menjalani pengobatan tumor otak di Denpasar, Bali.

Demi mendampingi anak, orang tua Keenan harus meninggalkan pekerjaan dan tinggal jauh dari rumah. Kondisi tersebut sempat membuat mereka tertekan secara finansial maupun emosional.

Bagi Dini, ibu Keenan, bertemu dengan keluarga lain yang menghadapi perjuangan serupa membuat mereka tidak lagi merasa sendirian.

“Di sini, saya menemukan keluarga baru. Kami semua pejuang sembuh yang saling support. Saat sebelumnya tinggal di kos, saya dan suami hanya bisa menangis berdua. Di rumah singgah, kami saling merangkul. Energi positif di sini menjadi kekuatan besar bagi keluarga kami,” katanya.

Kisah kedua keluarga tersebut memperlihatkan bahwa ketika seorang anak menjalani pengobatan panjang, keluarga juga membutuhkan ruang untuk bertahan. Dukungan sederhana seperti tempat tinggal yang layak, lingkungan yang nyaman, hingga kesempatan bertemu orang-orang dengan pengalaman serupa dapat memberi kekuatan tersendiri.

Selama 15 tahun di Indonesia, Yayasan Ronald McDonald House Indonesia mencatat telah mendampingi lebih dari 22.500 keluarga pasien anak melalui berbagai program. Salah satunya penyediaan rumah singgah yang memungkinkan orang tua tetap dekat dengan anak selama menjalani perawatan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com