-
AS memerintahkan evakuasi diplomat non-esensial dari Arab Saudi akibat lonjakan ancaman serangan Houthi.
-
Bandara Riyadh kembali dibuka terbatas pascaserangan mematikan yang menewaskan 13 orang pada pertengahan Oktober.
-
Kelompok Houthi menegaskan fasilitas penerbangan dan energi Arab Saudi tetap menjadi target militer utama.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat menginstruksikan seluruh staf diplomatik non-esensial dan keluarganya untuk segera mengosongkan Arab Saudi akibat lonjakan ancaman militer Houthi. Langkah darurat ini diambil tepat saat penerbangan di Bandara Internasional King Khalid Riyadh baru saja beroperasi terbatas pascaserangan.
Pemulangan staf asing ini menandai eskalasi krisis keamanan tertinggi di kawasan Teluk sepanjang tahun ini. Keputusan Washington mencerminkan kekhawatiran mendalam atas kerentanan fasilitas penerbangan sipil dari gempuran rudal jelajah.
Eskalasi pertempuran langsung mengancam stabilitas jalur penerbangan internasional dan objek vital di seluruh wilayah kerajaan. Kondisi lapangan semakin rapuh karena milisi Yaman tersebut terang-terangan menolak menghentikan gempuran ke titik strategis.
"Kelompok Houthi yang didukung Iran telah terlibat dalam aksi permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya yang mengakibatkan korban jiwa di antara warga sipil serta gangguan perjalanan yang parah," demikian pernyataan Kedubes AS.
Sinyal bahaya ini ditegaskan kembali oleh perwakilan diplomatik Paman Sam mengingat arena pertempuran yang terus meluas. Risiko bentrokan bersenjata diperkirakan bakal merembet ke area pemukiman dan kawasan bisnis utama.
"Aksi permusuhan ini berpotensi meningkat dengan cepat melampaui wilayah langsung tersebut," kata pihak kedutaan.
Perintah pengosongan personel diplomatik sebenarnya sudah diterbitkan secara internal sejak pertengahan pekan. Langkah antisipasi ini diambil mendahului pengumuman pembukaan kembali sebagian lalu lintas udara di ibu kota.
Otoritas penerbangan Riyadh saat ini hanya mengizinkan maskapai domestik dan penerbangan internasional terbatas untuk mengudara. Situasi di terminal penumpang masih diliputi ketegangan tinggi dan pengawalan ketat militer.
Kendati sebagian penerbangan mulai berjalan, warga Amerika diimbau ekstra waspada terhadap ancaman gempuran susulan. Risiko penutupan mendadak wilayah udara Arab Saudi dapat terjadi kapan saja tanpa pemberitahuan awal.
Seluruh jajaran personel kedutaan kini dilarang keras melintas atau menggunakan fasilitas bandara tanpa mengantongi izin resmi. Pembatasan pergerakan ini berlaku ketat di seluruh wilayah Arab Saudi hingga situasi mereda.
Di sisi lain, kelompok Houthi justru mempertegas posisi bahwa kompulsi militer mereka belum selesai. Mereka menegaskan infrastruktur penerbangan di ibu kota tetap berada dalam bidikan utama.
Ancaman terhadap Bandara King Khalid meningkat tajam usai gelombang serangan mematikan pertengahan bulan ini. Insiden berdarah pada 10 Oktober lalu melumpuhkan total operasional penerbangan setelah merenggut 13 nyawa dan melukai ratusan orang.
Gempuran udara terus berlanjut hingga akhir pekan meski sistem pertahanan udara kerajaan berulang kali mencegat proyektil musuh. Tentara Saudi dilaporkan harus bekerja ekstra merontokkan puluhan drone bom dan rudal di udara.
Konflik bersenjata ini kembali meletus sejak Juli lalu seiring hancurnya kesepakatan damai yang bertahan dua tahun. Milisi Houthi terus memperluas jangkauan serangan sejak menguasai kota Sanaa pada dekade lalu.
Selain menyasar simpul transportasi udara, gempuran armada drone juga difokuskan untuk merusak fasilitas kilang minyak. Kombinasi serangan ke sektor energi dan penerbangan ini mengancam perekonomian serta keamanan kawasan secara menyeluruh.