- ITDP dan WRI Indonesia menguji konsep penataan jalan share street di Sanur, Bali, untuk meningkatkan keselamatan anak-anak.
- Pendekatan taktis mengubah area parkir menjadi ruang publik dan bermain melalui pengecatan bersama warga serta seniman pada tahun ini.
- Pemerintah Kota Denpasar bersama pemangku kepentingan setempat akan mengevaluasi efektivitas intervensi tersebut secara berkala setelah tiga bulan penerapan.
Suara.com - Penataan ruang jalan dengan konsep share street dinilai dapat meningkatkan keselamatan pengguna jalan, terutama anak-anak. Di Sanur, Bali, pendekatan ini mulai diuji melalui reka ruang taktis yang mengubah area parkir menjadi ruang publik untuk berbagai aktivitas masyarakat.
Deputy Director Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), Deliani Poetriayu Siregar, mengatakan desain jalan perlu mempertimbangkan kebutuhan kelompok yang selama ini kehilangan ruang aman untuk beraktivitas.
“Intervensi lebih ke ruang jalan akan berpengaruh pada aspek keselamatan. Reka jalan share street akan memberi ruang yang lebih lega, utamanya bagi anak-anak,” kata Deliani dalam keterangan tertulisanya.
Persoalan keselamatan jalan menjadi salah satu latar belakang gagasan tersebut. Transport and Urban Design Specialist WRI Indonesia, Dini Amatullah, menyebut sepertiga lahan terbangun di Kota Denpasar merupakan jaringan jalan. Namun, menurut dia, kondisi jalan belum sepenuhnya mendukung keselamatan masyarakat.
“Angka kecelakaan di Kota Denpasar dari tahun 2022 dan 2024 naik 2,5 kali lipat. Banyak anak kehilangan jalan sebagai ruang aman dan ini perlu menjadi perhatian bagaimana kita akan mendesain ruang untuk anak-anak,” ujar Dini.
Menguji ruang jalan sebagai ruang bersama
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah tactical urbanism, yakni penataan ruang melalui intervensi sederhana yang bersifat sementara. Cara ini memungkinkan desain dan pemanfaatan ruang diuji sebelum diputuskan untuk diterapkan secara permanen.
Di depan Pura Dalem Segara Desa Adat Intaran dan Warung Men Weti, area yang sebelumnya digunakan untuk parkir kendaraan ditata menjadi ruang publik. Penataan dilakukan melalui pengecatan bersama yang melibatkan seniman, pemuda desa adat, anak-anak, dan masyarakat.
Area tersebut juga dilengkapi perpustakaan keliling dan ruang bermain anak. Dengan perubahan ini, ruang yang sebelumnya didominasi fungsi parkir diharapkan dapat mengakomodasi lebih banyak aktivitas masyarakat.
Namun, efektivitas intervensi tersebut masih perlu dievaluasi. Pemantauan berkala, termasuk setelah tiga bulan penerapan, diperlukan untuk menilai dampaknya terhadap keselamatan, mengidentifikasi kebutuhan perbaikan, dan menentukan keberlanjutan penataan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kota Denpasar, Ida Ayu Trisuci Arnawati, mengatakan reka ruang taktis dapat dilakukan secara temporer dan dikolaborasikan dengan pemerintah daerah. Menurutnya, nota kesepahaman diperlukan agar pelaksanaannya memiliki landasan yang jelas.
Sementara itu, Ketua BUPDA Intaran, Anak Agung Ketut Gede Aryateja, menilai kebutuhan ruang terbuka semakin penting di tengah perkembangan pariwisata dan alih fungsi lahan di Sanur.
Menurutnya, penataan ruang jalan secara multifungsi dapat menjadi salah satu cara menyediakan ruang bersama yang tetap dapat diakses masyarakat.
Tantangannya adalah memastikan perubahan tersebut tidak berhenti pada penataan visual. Keselamatan pengguna jalan, aksesibilitas, dan kebutuhan anak-anak perlu menjadi bagian dari evaluasi untuk menentukan apakah ruang yang diuji coba benar-benar dapat digunakan secara aman oleh berbagai kelompok masyarakat.