- Perempuan berusia 25 tahun menjalani prosedur TPVI di Heartology Cardiovascular Hospital, Jakarta, untuk mengatasi kebocoran katup jantung.
- Pasien memiliki riwayat kelainan jantung bawaan Tetralogy of Fallot serta beberapa kali operasi jantung sejak masa kanak-kanak.
- Tindakan penggantian katup tanpa bedah terbuka ini merupakan prosedur TPVI ketiga yang tercatat dilakukan di Indonesia.
Suara.com - Perempuan berusia 25 tahun dengan riwayat kelainan jantung bawaan menjalani prosedur penggantian katup pulmonal tanpa operasi jantung terbuka di Heartology Cardiovascular Hospital, Jakarta. Tindakan yang disebut sebagai prosedur Transcatheter Pulmonary Valve Implantation (TPVI) ketiga di Indonesia ini menjadi salah satu upaya penanganan gangguan katup jantung pada pasien dengan riwayat operasi sebelumnya.
Pasien tersebut memiliki riwayat Tetralogy of Fallot (ToF), yaitu kelainan jantung bawaan yang memengaruhi struktur jantung dan aliran darah. Ia telah menjalani operasi koreksi ToF saat berusia satu tahun empat bulan, kemudian menjalani pemasangan alat implantable cardioverter-defibrillator (ICD) pada usia 19 tahun.
Saat berusia 24 tahun, pasien kembali mengalami insufisiensi katup pulmonal atau kebocoran pada katup yang mengatur aliran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru.
Kebocoran ini menyebabkan sebagian darah mengalir kembali ke bilik kanan jantung sehingga meningkatkan beban kerjanya. Jika terjadi secara signifikan, kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi bilik kanan dan memerlukan evaluasi serta penanganan lebih lanjut.
Riwayat operasi menjadi pertimbangan penanganan
Pada pasien yang pernah menjalani operasi jantung terbuka, keputusan untuk melakukan operasi ulang memerlukan pertimbangan yang cermat. Risiko seperti perdarahan dan komplikasi selama prosedur perlu diperhitungkan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Setelah mengevaluasi kondisi pasien, tim medis memilih pendekatan transkateter melalui prosedur TPVI. Metode ini memungkinkan dokter mengganti katup pulmonal menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah, tanpa perlu membuka rongga dada.
Namun, prosedur tersebut tidak dapat diterapkan pada semua pasien. Kelayakannya bergantung pada kondisi klinis, bentuk dan struktur jantung, serta hasil pemeriksaan medis secara menyeluruh.
dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K), Consultant of Pediatric Cardiology & Congenital Heart Disease Heartology Cardiovascular Hospital, menjelaskan bahwa pasien dengan riwayat ToF tetap memerlukan pemantauan jangka panjang meskipun telah menjalani operasi koreksi saat kecil.
“Pada pasien dengan riwayat Tetralogy of Fallot, penanganan tidak selalu berhenti setelah koreksi kelainan jantung bawaan dilakukan. Seiring waktu, sebagian pasien dapat mengalami gangguan lanjutan, termasuk kebocoran katup pulmonal. Karena itu, pemantauan jangka panjang dan evaluasi kondisi jantung menjadi penting untuk menentukan apakah pasien memerlukan penanganan lebih lanjut. Pada pasien yang memiliki risiko lebih tinggi untuk menjalani operasi ulang, pendekatan transkateter dapat menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan berdasarkan kondisi klinis dan anatomi pasien,” ujar dr. Radityo.
Bagaimana prosedur TPVI dilakukan?
TPVI merupakan prosedur penggantian katup pulmonal dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah menuju jantung. Katup buatan kemudian ditempatkan pada posisi yang telah ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan anatomi jantung dan kebutuhan pasien.
Karena tidak memerlukan pembukaan rongga dada, pendekatan transkateter berpotensi mengurangi trauma pembedahan dan mendukung pemulihan yang lebih cepat pada pasien yang memenuhi kriteria. Meski demikian, manfaat dan risiko tindakan tetap perlu dinilai secara individual.
Prosedur ini membutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari pemeriksaan struktur jantung, pemilihan perangkat katup, hingga penilaian hasil pemasangan.
Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Interventional Cardiologist dan Electrophysiologist Heartology Cardiovascular Hospital, mengatakan keberhasilan tindakan tidak hanya ditentukan oleh pemasangan katup baru, tetapi juga oleh ketepatan perencanaan dan pemahaman terhadap kondisi jantung pasien.