Indotnesia - Dalam rangka memperingati Hari Otonomi Daerah (Otda) ke-26 pada Senin (25/4/2022), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meluncurkan layanan berbasis metaverse bernama Kovi Otda atau Konsultasi Virtual Otonomi Daerah.
Acara yang dilaksanakan di Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Kemendagri, Jakarta Pusat itu juga menjadi ajang uji coba bagi sejumlah pegawai Pemerintah Daerah (Pemda) menjajal layanan metaverse tersebut.
Kovi Otda dibuat oleh Kemendagri sebagai bentuk inovasi pencegahan korupsi di lingkungan Pemda. Nantinya, layanan yang menghadirkan ruang 3 dimensi melalui perangkat virtual reality itu akan menjadi wadah bagi para pejabat Pemda untuk berkonsultasi dengan Pemerintah Pusat tanpa harus berada di lokasi yang sama.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Suhajar Diantoro juga mengatakan jika diluncurkannya layanan Kovi Otda menjadi inovasi dengan memanfaatkan teknologi terbaru untuk memudahkan koordinasi bagi pemerintah.
“Yang selama ini dilaksanakan secara manual (pertemuan langsung), melalui teknologi yang canggih ini sekarang memungkinkan pejabat untuk bertemu di ruang virtual meski posisinya berada di daerah masing-masing,” ungkapnya, dikutip dari laman resmi Kemendagri pada Jumat (29/4/2022).
Untuk menggunakan Kovi Otda, Kemendagri nantinya juga akan memberikan akun khusus bagi pegawai Pemda agar bisa mengakses layanan tersebut melalui website www.kovi.otda.kemendagri.go.id.
Layanan Kovi Otda diklaim oleh Kemendagri dapat menjadi inovasi untuk meminimalisir korupsi di lingkungan Pemda. Meski begitu, peluncuran layanan terbarukan tersebut justru menuai kritikan dari masyarakat.
Di Twitter, sejumlah warganet mempertanyakan urgensi dari pengadaan layanan Kovi Otda. Mereka lantas membandingkan dengan pengadaan E-KTP yang telah berbasis elektronik dan berfungsi secara komputerisasi, tetapi masih harus di fotokopi.
“Layanan di metaverse: Coba itu KTP-nya di-fotokopi dulu ya,” tulis akun @aditryan.
“KK & KTP masih fotokopi ngomongin metaverse. Benahi dulu layanan publik, surat menyurat & perijinan. Baru ngomongin metaverse,” tulis akun @akunugraha.
Selain itu, sejumlah masyarakat juga mengkritik jika layanan tersebut dinilai kurang efektif dan hanya menghamburkan dana. Mereka lantas menawarkan alternatif dengan memberikan saran berupa optimalisasi website dan server pemerintah yang lebih menjangkau masyarakat.
“Sesungguhnya proyek Metaverse tidak bermanfaat untuk masyarakat. Berapa banyak yang kebeli Oculus (alat virtual reality)? Yang tidak bermanfaat di kehidupan sehari-hari juga. Lebih baik optimalkan website dan servernya, jaga keamanannya. Website lebih menjangkau masyarakat,” tulis akun @ibnux.
Berita Terkait
-
Hilal di Batas Kriteria MABIMS, Bosscha ITB Sebut Posisi Bulan Sulit Diamati
-
Yadea Siapkan Gebrakan Motor Listrik Pintar Jarak Jauh di Pasar Indonesia Tahun Ini
-
Kreativitas Anak Muda Indonesia Besar, Tapi Akses Teknologi Masih Jadi Tantangan
-
Kenapa Saya Memilih Menanam Cabai Saat Dunia Sedang Mengejar AI
-
AI Dimanfaatkan Hacker, Phishing dan Ransomware Kini Lebih Sulit Dideteksi
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Heboh Pengunjung Tewas Jatuh dari Lantai 4 Plaza Medan Fair, Diduga Bunuh Diri
-
'Maaf, Nggak Open House', Benarkah Gen Z Kini Pilih Privasi Saat Lebaran?
-
THR Tak Lagi Pakai Amplop, Transfer Digital Kini Geser Tradisi Lebaran?
-
Rekor 29 Kali One Way di Jalur Bandung-Garut! Strategi Polisi Urai Macet Mudik 2026
-
Kumpul Keluarga Inti Kini Jadi Pilihan, Tradisi Lebaran Ramai-Ramai Mulai Ditinggalkan?
-
Lelah Arus Mudik? Ini 5 Destinasi Alam di Bogor untuk Self-Healing Bareng Keluarga
-
Misteri Terkuak di Cipayung! 7 Fakta Kunci Kasus Pembunuhan Wanita DA yang Ditemukan Tewas Terkunci
-
Inggris Tak Mampu Tahan Rudal Iran, London Kini Dalam Jangkauan Sejjil
-
Hari Fitri, Uang Baru Berpindah Tangan, Berbagi Tetap Hidup, Meski Keadaan Tak Selalu Ringan
-
Waspada Macet Total! Senin Besok Diprediksi Puncak Arus Balik di Jalur Puncak-Cianjur