/
Kamis, 05 Mei 2022 | 18:32 WIB
Indotnesia/Eko Junianto

Indotnesia - Pemerintah Kota Yogyakarta sedang melakukan pembenahan tatan kota, salah satunya mengembalikan rupa Alun-Alun Utara seperti semula, yaitu mengganti tanah alun-alun menjadi pasir.

Tindakan tersebut merupakan tindak lanjut dari pengusulan Sumbu Filosofi oleh Pemerintah Daerah DIY untuk menjadi salah satu Warisan Budaya Dunia Tak Benda ke UNESCO.

Sejak April 2022, proses revitalisasi telah berjalan dan diperkirakan rampung pada Juli mendatang. Fasad atau muka bangunan Alun-Alun Utara akan dikembalikan seperti saat masa kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono HB I.

Menurut Wakil Penghageng II Tepas Pinitikisma Kraton Yogyakarta, KRT Suryo Satriyanto, digantinya halaman Alun-Alun Utara dengan pasir dilakukan untuk memperbaiki kondisi tanah alun-alun dan menjaga kelestariannya.

“Kami mengembalikan tanah Alun-Alun Utara ke material aslinya yakni pasir, sangat penting untuk menjaga kemuliaan serta kelestarian Alun-alun sebagaimana mestinya,” jelas Suryo, seperti dikutip dari Suara.com pada Kamis (5/5/2022).

Pasir yang digunakan untuk mengganti tanah di halaman sekitar Alun-Alun Utara, merupakan pasir khusus yang berasal dari tanah Kasultanan. Bahkan, pengambilan pasir telah melalui proses pemilihan sekaligus pertimbangan dari pihak internal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Berdasarkan keterangan dari laman resmi Kraton Jogja, Alun-Alun Utara memiliki berbagai fungsi dan peran Kraton sebagai pusat pemerintahan. Halaman istana Kesultanan yang luas ini, menjadi penghubung secara sosial maupun tata ruang bagi kawasan di sekitarnya. Salah satu contohnya adalah keberadaan Kraton dan Masjid Gedhe yang digambarkan sebagai kedekatan antara Sultan dan rakyatnya.

Dilansir dari Suara.com, tanah Alun-Alun Utara yang diganti menjadi pasir lembut memiliki arti sebagai laut tak berpantai. Hal tersebut merupakan merupakan perwujudan dari kemahatakhinggaan Tuhan.

Proses permuliaan atau pembangunan kembali halaman Alun-Alun Utara menjadi pasir seperti dahulu, juga menjadi salah satu langkah Kraton untuk merawat aset-aset Kagungan Dalem atau kepunyaan Sultan. Selain itu, Suryo juga menjelaskan jika pengembalian pasir ke halaman Alun-Alun Utara, juga sebagai wujud keindahan,

“Termasuk sebagai salah satu pengejawantahan (wujud) dari konsep menjaga dan memperindah keindahan dunia, Memayu Hayuning Bawono,” ungkapnya, dikutip dari Suara.com.

Load More