Indotnesia - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Mantan Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti Kamis (2/6/2022). Selain itu, KPK juga melakukan penyegelan ruang dinas eks Wali Kota Jogja itu.
Haryadi Suyuti adalah bekas Wali Kota Jogja yang langgeng selama tiga periode. Haryadi menjabat Wali Kota pada periode 2006–2011, bertahan ke periode 2012–2016, dan berlanjut periode 2017–2022.
Tak hanya Haryadi, KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) pada sejumlah orang yang terlibat atas dugaan kasus pemberian suap izin pembangunan apartemen di Yogyakarta.
Melansir dari Suara.com, penangkapan itu langsung dibenarkan oleh Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri.
"Benar, hari ini. KPK telah melakukan kegiatan tangkap tangan terhadap beberapa pihak yang diduga sedang melakukan tindak pidana korupsi suap di Yogyakarta. Salah satu yang diamankan adalah walikota Yogyakarta 2017-2022," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, Kamis (2/6/2022).
Selain OTT, ruang kerja mantan Wali Kota Jogja itu juga dilakukan penyegelan oleh lembaga antirasuah itu yang dibenarkan oleh Ketua DPRD Yogyakarta.
“Sejauh ini saya belum terupdate. Tadi banyak yang menginfokan ke saya kalau peristiwanya terjadi dan memang ruangannya (wali kota) sudah tersegel,” kata Ketua DPRD Jogja, Danang Rudyatmoko yang dilansir dari Suara.com
Danang menambahkan, selain ruang kerja Haryadi, penyegelan juga dilakukan di ruang dinas perizinan dan ruang dinas Pekerjaan Umum (PU).
Saat penangkapan Haryadi dan sejumlah pihak, KPK menemukan sejumlah uang pecahan dolar AS dan berkas-berkas. Terkait jumlah uang yang diamankan masih dalam proses perhitungan oleh KPK.
Hingga saat ini Tim Satgas KPK masih mengumpulkan bukti dan melakukan pemeriksaan intensif pada sejumlah pihak atas kasus suap yang menyeret Kota Istimewa itu. Pihak-pihak yang tertangkap juga sudah dimintai informasi dan keterangan keterlibatan pihak lain.
Sebelumnya, Danang Rudyatmoko mengungkapkan KPK telah melakukan pemantauan ke beberapa dinas di Balai Kota Yogyakarta.
"Kasusnya kita kan juga enggak ngerti tapi yang pasti sebetulnya itu memang ada pantauan kurang lebih sekitar satu bulan yang lalu sudah ada pantauan," ujar Danang dikutip dari Suara.com.
Berita Terkait
-
KPK Tak Sanksi Etik Setya Budi Dias di Kasus Pemerasan Bupati Pemalang, Ini Alasannya
-
Bukan 2 Jam, Keluarga Tahanan KPK Dapat 'Bonus' Waktu Kunjungan di Hari Kemerdekaan
-
Rumah ASN PUPR dan Anggota DPRD Digeledah, KPK Temukan Bukti Kasus Suap Rejang Lebong
-
Usut Korupsi Rp35,7 M, KPK Bedah Keuangan KSO Pembangun Gedung Pemkab Lamongan
-
Ketua DPRD dan Sekda Kuansing Dicecar KPK Soal Pengembalian Amplop Raja Juli
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
HUT RI ke-81, Tradisi Panjat Pinang Kembali Meriahkan Kalimalang
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?