Indotnesia - Jalan Malioboro menjadi salah satu destinasi wisata yang terkenal di Yogyakarta. Tak hanya sebagai ikon wisata, ternyata ada sejarah panjang dari Jalan Malioboro yang membuatnya begitu populer di kalangan pelancong.
Jalan Malioboro terkenal sebagai surga belanja sekaligus wisata untuk berkeliling di sejumlah tempat ikonik yang ada di jantung Kota Jogja. Di kawasan ini, terdapat Pasar Beringharjo yang legendaris, Benteng Vredeburg sebagai bangunan bersejarah dan Istana Gedung Agung yang berdiri sejak 1869.
Sejarah Jalan Malioboro
Jalan Malioboro dibangun oleh Hamengkubuwana I, sultan pertama Kraton Yogyakarta sekitar tahun 1755.
Menurut Peter Carey, sejarawan Inggris yang fokus pada pada sejarah modern Indonesia, menyebut bahwa nama Malioboro diambil dari bahasa Jawa “maliabara”, adopsi dari bahasa Sanskerta “malyabhara” yang berarti “dihiasai karangan bunga”.
Sebelumnya, pembahasan terkait sejarah nama Malioboro juga pernah dibahas oleh Professor C.C. Berg saat mengisi kuliah di Universitas Leiden, Belanda pada 1950 hingga 1960-an.
Sebelum menjadi wisata belanja, Jalan Malioboro pada era sebelum kemerdekaan digunakan sebagai Poros Garis imajiner Kraton Yogyakarta.
Poros tersebut menggambarkan arah Utara-Selatan, sejajar dengan Gunung Merapi-Kraton Yogyakarta-Pantai Parangkusumo.
Jalan ini menghubungkan Tugu Yogyakarta hingga perempatan Kantor Pos Yogyakarta yang berdekatan dengan kompleks Kraton Yogyakarta.
Dulunya jalan paling populer di Yogyakarta itu berfungsi sebagai jalan utama kerajaan atau rajamarga saat kegiatan seremonial kesultanan.
Di sisi selatan Jalan Malioboro, pernah terjadi peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, yaitu kesuksesan gerilyawan menduduki Yogya selama enam jam dan membuktikan kepada dunia tentang eksistensi negara Indonesia yang masih ada meski berada di bawah jajahan Belanda.
Peristiwa bersejarah itu lantas membuat Jalan Malioboro rutin digunakan untuk pawai tahunan pasukan garnisun Yogyakarta saat Hari Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober. Bahkan, monumen Serangan Umum 1 Maret dikukuhkan di ujung jalan tersebut.
Selama bertahun-tahun, Jalan Malioboro difungsikan sebagai jalan dua arah dan berubah menjadi satu arah pada tahun 1980-an dari jalan kereta api ke selatan hingga persimpangan kilometer 0.
Ramai PKL
![Keramaian pedagang kaki lima di sepanjang trotoar Jalan Malioboro sebelum di relokasi. [Indotnesia/Amirul Mukmin]](https://media.suara.com/404.jpg)
Pada 1980-an, sebuah iklan rokok diletakkan di bangunan pertama selatan jalur kereta api di Jalan Malioboro. Iklan rokok Marlboro tersebut lantas menarik penduduk dan orang asing karena melihat kata-kata produk yang diiklankan dengan nama jalan sama.
Keramaian tersebut lantas menjadikan Jalan Malioboro menjadi pusat komersial yang dipenuhi toko-toko di sepanjang jalan. Bahkan, jalan tersebut memiliki arti penting sebagai pusat perekonomian, hiburan, wisata, dan kuliner kota Yogyakarta.
Kehadiran pedagang kaki lima (PKL) yang berada di atas trotoar depan toko sepanjang Jalan Malioboro pun menarik perhatian pengunjung. Tak hanya berjalan menyusuri jalan, wisatawan juga bisa sekaligus berbelanja di emperan.
Meski telah menjadi ikon Malioboro, PKL yang berjualan di sepanjang trotoar Jalan Malioboro resmi dipindahkan oleh Pemerintah Provinsi DIY ke Pusat UMKM yang berada di depan Pasar Beringharjo dan bekas gedung Dinas Pariwisata DIY pada Februari 2022.
Itulah sejarah Jalan Malioboro yang menjadi ikon wisata Kota Jogja. Tak hanya menjadi surga belanja, jalan sepanjang 2 km tersebut juga menyimpan sejarah penting bagi perkembangan tatanan wilayah Yogyakarta. Punya kenangan apa di jalan ini?
Berita Terkait
-
PLTMH Kedungrong Andalkan Sungai Kalibawang Terangi Puluhan Rumah
-
Tak Berhenti di 13 Orang! Polisi Beri Sinyal Tersangka Baru di Kasus Daycare Little Aresha
-
Pra-Acara Day of Petroleum 2026: Konservasi Penyu, Tanam Pandan, dan Bersih Pantai di Patihan
-
BRI RO Yogyakarta Salurkan KUR Rp10,3 Triliun per Mei 2026, 250 Ribu UMKM Terima Manfaat
-
Tanpa Alas Kaki dan Tanpa Suara, Makna di Balik Mubeng Beteng Malam 1 Suro
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Bekasi Belajar PLTSa ke China, Siapkan Bantargebang Ikon Pengolahan Sampah Modern
-
Kyrie Irving Datang ke Indonesia Disambut Antusias Freestyle Street Basket Tanah Air
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Kapolres Gowa, Bone, Parepare Hingga Toraja Utara Kena Mutasi
-
Haraku Ramen Samarinda Resmi Dibuka, Halal Mulai Rp25 Ribu
-
Teriak Demokrasi, tapi yang Beda Pendapat Dicap Buzzer: Sehat?
-
Prediksi Skor Kolombia vs Portugal: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Dari Anemia hingga Isu Mental, Ketika Generasi Muda Turun Tangan Racik Solusi Kesehatan
-
Indonesia Sekarat! Amuk Massa di Grahadi dan Meme Kowarso yang Membakar Surabaya
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan