- Orang tua korban kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta menginisiasi petisi menuntut sanksi akademik terhadap dosen UGM, Cahyaningrum Dewojati.
- Petisi tersebut mendesak universitas menjatuhkan sanksi berat kepada dosen yang menjabat sebagai penasihat yayasan di daycare tersebut.
- Fakultas Ilmu Budaya UGM sedang berkoordinasi dengan pihak universitas untuk memproses status kepegawaian dosen terkait sesuai aturan disiplin.
Suara.com - Para orang tua korban dugaan kekerasan di Daycare Little Aresha (LA) Yogyakarta secara resmi menginisiasi petisi yang ditujukan kepada Universitas Gadjah Mada (UGM).
Langkah ini diambil sebagai bentuk desakan agar pihak universitas menjatuhkan sanksi akademik terhadap oknum dosen yang tercatat masuk dalam struktur kepengurusan yayasan tersebut.
Adapun salah satu staf pengajarnya yang dimaksud yakni Cahyaningrum Dewojati. Diketahui dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) itu tercatat sebagai Penasihat Yayasan Daycare Little Aresha.
"Kami menginisiasi untuk membuat petisi untuk UGM supaya memberikan sanksi akademik untuk salah satu dosen yang diduga terlibat dalam struktur organisasi daycare LA, seperti itu. Nanti bentuk petisinya seperti apa, nanti akan kami rembuk dengan tim," kata perwakilan orang tua korban, Huri saat ditemui di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (6/5/2026).
Huri menekankan bahwa meskipun proses pidana sedang berjalan di kepolisian, para orang tua mendorong agar sanksi etik dan akademik didahulukan oleh pihak kampus.
"Iya (desakan) penjatuhan sanksi, minimal sanksi akademik. Walaupun sanksi pidananya kan masih dalam proses penyelidikan dan penyidikan, tetapi yang kita dorong sanksi akademik terlebih dahulu," tegasnya.
Mereka turut meminta ruang audiensi agar bisa menyampaikan secara langsung dampak psikis dan fisik yang dialami anak-anak mereka akibat tindakan di daycare tersebut.
Terkait posisi dosen tersebut sebagai penasihat, para orang tua merasa sulit menerima jika yang bersangkutan disebut tidak mengetahui operasional harian.
Secara logika, menurut mereka, jabatan di struktur atas seharusnya memiliki tanggung jawab pengawasan terhadap peristiwa yang terjadi di dalam lembaga.
Baca Juga: Krisis Pengawas, DIY Hanya Miliki 24 Penilik untuk Ribuan PAUD Non-Formal
"Kami hanya merasionalkan saja terkait dengan dosen yang diduga terlibat dalam organisasi daycare ini. Harusnya yang namanya penasihat ya, atau struktur yang paling atas itu juga pasti mengetahui apa yang terjadi di dalam Daycare (Little) Aresha itu," tuturnya.
Selain persoalan sanksi internal kampus, perwakilan orang tua lainnya, Noorman Windarto, menyatakan kekecewaan mendalam atas respons awal UGM yang menyebut keterlibatan dosen tersebut hanya bersifat personal.
Ia mempertanyakan sensitivitas dan rasa kemanusiaan pihak universitas sebagai sesama lembaga pendidikan.
"Jelas (belum puas). Jawabannya (UGM) kan cuma personal, ini kegiatan personal. Itu jawaban kita yang rasa kemanusiaannya UGM di mana nih. Saya berani mengatakan itu rasa kemanusiaannya di mana gitu terhadap seratus sekian orang tua," ujar Noorman.
Disampaikan Noorman, alasan kelalaian personal tidak sebanding dengan trauma yang dialami anak-anak pada masa usia emas mereka.
Ia pun secara terang-terangan menyebut bahwa para orang tua menginginkan sanksi terberat bagi siapa pun civitas akademika yang terlibat, termasuk kemungkinan pemecatan.
"Ya kami pengen UGM memberikan sanksi yang seberat-beratnyalah untuk untuk pihak yang terlibat di sana. Ya kami akan coba melakukan itu (desakan pemecatan)," tandasnya.
Hingga saat ini, petisi tersebut telah mendapat dukungan mayoritas dari para orang tua korban.
Berita Terkait
-
Rupiah Masih Melemah Akibat Turunnya Surplus Perdagangan
-
Krisis Pengawas, DIY Hanya Miliki 24 Penilik untuk Ribuan PAUD Non-Formal
-
Beckham Putra Punya Modal Penting Buat Kalahkan Persija Jakarta
-
Analisis Jean-Paul Van Gastel usai PSIM Dihajar Persib, Soroti Gol Cepat Lawan
-
Ade Armando Klaim Baru Tahu Ceramah JK di UGM 40 Menit Usai Dipolisikan
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar