Indotnesia - Kasus dugaan penyiksaan terhadap Brigadir J atau Nofrayansah Yosua Hutabarat menemui babak baru. Kini, kuasa hukum keluarga korban, Kamaruddin Simanjuntak meyakini pelaku penyiksaaan tersebut merupakan seorang psikopat.
Lalu, apa itu psikopat? Apa yang terjadi pada otak mereka sehingga tidak memiliki empati?
Mengutip Medical News Today, psikopat dikenal karena keegoisan, ketidakpedulian, dan kekerasan yang mereka lakukan. Secara umum, psikopat dianggap sebagai gangguan kepribadian.
Pengertian Psikopat
Pada 1993, seorang psikolog asal Kanada, Robert Hare, mendefinisikan psikopat sebagai predator sosial yang memikat, memanipulasi, dan menjalani hidup mereka secara kejam.
“Sama sekali tidak memiliki hati nurani dan perasaan untuk orang lain,” tulis Hare.
“Dengan egois mengambil apa yang mereka inginkan dan lakukan sesuka mereka, melanggar norma dan harapan sosial, tanpa rasa bersalah atau penyesalan sedikit pun,” imbuhnya.
Jumlah psikopat jika dibandingkan seluruh populasi tergolong kecil. Berdasarkan perkiraan terkini, kurang dari 1% pria di Amerika Serikat tergolong psikopat.
“Tidak semua psikopat adalah pembunuh,” tulis Hare.
Baca Juga: Jepang Jadi Paspor Terkuat di Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?
"Mereka lebih cenderung menjadi pria dan wanita yang Anda kenal, menjalani hidup dengan kepercayaan diri tertinggi tapi tanpa hati nurani,” lanjutnya.
Profesor di University of Chicago, Jean Decety, mengatakan ciri khas individu dengan psikopati adalah kurangnya empati. Beberapa penelitian menunjukkan dasar saraf untuk empati mengalami kesalahan atau bahkan tidak ada sama sekali di otak psikopat.
Penelitian juga menunjukkan kemungkinan psikopat memiliki sistem neuro cermin yang terganggu. Neuron cermin adalah neuron yang mencerminkan gerakan orang lain.
Pada otak yang sehat neuron ini aktif ketika kita melihat orang lain melakukan tindakan dan ketika kita meniru tindakan yang sama itu.
Profesor Decety telah memimpin beberapa eksperimen yang menemukan bahwa psikopat hanya kekurangan semacam "peralatan" saraf untuk empati.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123