Indotnesia - Jika Anda merupakan salah satu orang yang kerap bepergian menggunakan kereta api, Anda pasti pernah menggunakan alat GeNose?
Alat ini sempat booming pada 2020-2021 ini digunakan untuk mendeteksi Covid-19 di dalam tubuh seseorang. Harganya yang murah dengan tarif Rp20.000 membuat layanan GeNose dipilih sebagai alat pemeriksaan.
Pada akhirnya, alat bikinan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini tidak lagi dimasukkan sebagai syarat melakukan perjalanan karena adanya PPKM Darurat.
Tidak lagi ditemukan keberadaannya, lalu bagaimana nasib GeNose sekarang. Melansir Suara.com, Time GeNose 19 UGM telah menghentikan produksi alat tersebut.
Agar tidak sia-sia begitu saja, tim berupaya untuk mengalihfungsikan alat itu untuk mendeteksi penyakit lainnya. Meski demikian, ada beberapa hal yang harus dilakukan seperti memperbarui piranti lunaknya.
Penemu GeNose C19 Kuwat Triyana mengatakan GeNose dapat menjadi alat diagnostik lain, ketimbang hanya berakhir di market place.
“Tinggal update software, maka bisa digunakan untuk deteksi yang lain," ujarnya di UGM, Senin (22/8/2022).
Saat ini, tim sedang mengembangkan software GeNose C19 bersama Kemendikbudristek dan BRIN. Kuwat menjelaskan alat ini ke depannya dapat mendeteksi virus kanker serviks, nasofaring, tuberculosis, bakteri luka diabetes, dan sebagainya.
Lebih lanjut, Kuwat berharap alat ini dapat digunakan secara luas ke puskesmas dan layanan kesehatan lainnya di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Viral Kisah Anak TK di DO Sepihak Padahal Sudah Bayar Rp16 Juta, Warganet: Viralin
“Harapannya nanti alat-alat yang sudah tersebar di masyarakat sampai ribuan ini bisa kita tawarkan untuk donasi, diserahkan ke puskesmas atau layanan kesehatan untuk meng-cover ke seluruh negeri," katanya.
Meski demikian, sebagian pembeli mesin GeNose telah menjual alatnya karena tidak terpakai. Ia meyakinkan pengembangan software yang lebih spesifik akan membuat mesin tersebut berguna mendeteksi penyakit lain.
“Kami memberikan gambaran kepada masyarakat luas, jangan dijual dulu, jangan-jangan harganya nanti naik sepuluh kali lipat, bisa juga lho," tuturnya.
Saat ini, sejumlah mahasiswa UGM telah memakai GeNose untuk mendeteksi penyakit pada binatang dan tanaman.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Shin Tae-yong Resmi Dihukum 10 Tahun, Bagaimana Nasibnya di Persija Jakarta?
- 4 Zodiak yang Diprediksi Hidup Lebih Tenang dan Damai di Akhir Juli 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Port FC Petik Tiga Poin, Sarawut Treephan Sebut Kemenangan atas PSMS Jadi Modal Penting
-
Napi Lapas Pekanbaru Belum Ditemukan, Kabur saat Ambil Obat di Apotek
-
Review Dikichi Kediri: Sensasi Crispy Hot Chicken yang Renyahnya Bikin Nagih!
-
Dihukum 10 Tahun oleh KFA, Shin Tae-yong Tetap Tangani Persija
-
Perkuat Sektor Wing Back, Kendal Tornado FC Datangkan Eks Pemain Timnas U-19
-
Karhutla Mengamuk di Kubu Raya, Nyaris Lahap Permukiman Warga
-
Pembagian Seragam Gratis Pemprov Kaltim Terlambat, Orangtua Terpaksa Beli Dulu
-
Krisis Global di Depan Mata, Generasi Muda Ini Kumpul Cari Solusi Lewat Jalur Diplomasi
-
Peringati Hari Mangrove Sedunia, BRI Peduli Tanam 24.000 Pohon di Pesisir Karawang
-
Bersama PNM Mekaar, Mesin Jahit Tua Mampu Menghidupi Lima Keluarga