Indotnesia - Gelombang panas yang menyerang benua Eropa dan negara China telah berakibat fatal. Sungai-sungai mengering, bahkan pemerintah provinsi Sichuan memperpanjang pemadaman listrik untuk industri.
Laporan Global Drought Observatory menyebutkan sekitar dua pertiga wilayah di Eropa kini mengalami kekeringan, yang kemungkinan merupakan bencana terburuk dalam 500 tahun.
Mengutip BBC, sebanyak 17% wilayah Eropa juga berada di level waspada karena vegetasi menunjukkan tanda-tanda "stres". Musim kemarau akan mempengaruhi hasil panen dan kebakaran hutan. Kekeringan ini diperkirakan masih berlangsung beberapa bulan lagi di sejumlah wilayah Eropa bagian selatan.
Sungai-sungai mengering membuat kapal tak bisa beroperasi dan sektor energi kritis. Pembangkit listrik tenaga air menurun signifikan hingga 20%.
Kekeringan parah memang banyak terjadi di sepanjang tahun, tapi kali ini makin meluas dan memburuk sejak awal Agustus 2022.
Laporan itu menyebut negara-negara dengan kekeringan parah termasuk Italia, Spanyol, Portugal, Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, Luksemburg, Rumania, Hungaria, Serbia utara, Ukraina, Moldova, Irlandia, dan Inggris.
Sementara itu, di China, gelombang panas selama sebulan terakhir dan rendahnya curah hujan mengakibatkan sungai terpanjang di negara itu mengering. Curah hujan di Sungai Yangtze sejak Juli 2022 tercatat 45% persen di bawah normal, atau terendah sejak 1961.
Bahkan danau dan anak sungai juga surut airnya hingga terlihat bagian dasarnya. Nampak pula sebuah ukiran batu Buddha berusia 600 tahun dan bebatuan di bawah Paviliun Guanyin, Wuhan.
Laporan Bloomberg menyebutkan, temperatur udara di wilayah Sichuan berada di atas 40 derajat Celsius. Di sisi lain, terjadi lonjakan permintaan untuk AC sehingga terjadi kesenjangan pasokan listrik.
Baca Juga: Silang Pendapat Polri dan Jurnalis soal Uang Rp900 Miliar di Rumah Ferdy Sambo
Pemerintah setempat akhirnya membatasi pasokan listrik ke beberapa pelanggan industri atau pabrik hingga 25 Agustus 2022, dari yang semula 20 Agustus 2022.
"Sichuan sekarang menghadapi temperatur terpanas dan kekeringan terburuk dalam 60 tahun terakhir," ujar Analis Morgan Stanley, Simon Lee.
Cuaca ekstrem di China memperburuk krisis global dan menekan pasokan komoditas ketika negara-negara sedang berjuang untuk mengatasi gejolak yang disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Syok Die on This Hill Meledak di Indonesia, Sienna Spiro Bocorkan OST The Devil Wears Prada 2
-
Promo Indomaret Hari Ini 29 April 2026, Ada Beli 2 Gratis 1
-
Polisi Dalami Duagaan Human Error hingga Gangguan Sistem di Balik Kecelakaan Maut KRL-Argo Bromo
-
5 Rekomendasi Lipstik Glossy untuk Bibir Pecah-Pecah yang Awet
-
85 Gol dalam 100 Laga: Kylian Mbappe Lebih Tajam dari Benzema, Nyaris Samai Ronaldo
-
Dipecat, Guru SD di Jombang Melawan: Indisipliner atau Efek Kritik Fasilitas Sekolah?
-
Etenia Croft Luncurkan Sahabat Terbaik, Lagu Penuh Makna tentang Persahabatan yang Hangat
-
Renault Siapkan Mobil Menggoda, SUV 1.200cc Siap Tantang Raize-Rocky
-
Hadiah Uang Juara Piala Dunia 2026 Naik
-
7 Barang yang Tidak Boleh Disimpan di Jok Motor, Risikonya Tak Main-Main