Indotnesia - Korea Selatan memang sukses mencetak penyanyi dan drama yang digemari banyak orang. Namun, negara ini lagi-lagi harus menghadapi kenyataan tingkat kelahiran yang terendah di dunia.
Melansir CNN, Jumat (26/8/2022), dalam data terbaru, setiap perempuan di Korea Selatan rata-rata memiliki 0,81 anak pada 2021. Angka tersebut menurun 0,03% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, tingkat kelahiran bayi di Amerika Serikat adalah 1,6, dan Jepang tercatat 1,3 per perempuan. Sementara, tingkat kelahiran di Indonesia 2,29 per perempuan pada 2019.
Sementara, sejumlah negara Afrika, mencetak tingkat kelahiran tertinggi di dunia, yakni 5 atau 6. Korea Selatan butuh tingkat kelahiran di angka 2,1 agar populasi bisa stabil.
Tingkat kelahiran di Negeri Gingseng itu telah menurun sejak 2015. Pada 2020, negara tersebut mencatatkan lebih banyak kematikan dibanding kelahiran.
Dalam laporan statistik 2021 itu juga terlihat perempuan di Korea Selatan memilih memiliki anak di usia sekitar 33,4 tahun, atau 0,2 tahun lebih tua dibanding tahun sebelumnya.
Para ahli khawatir dengan populasi di sana karena demografis yang menurun, jumlah usia produktif lebih sedikit ketimbang lansia yang terus berkembang.
Pada November 2021, 16,8% warga Korea Selatan berusia di atas 65 tahun, sementara hanya 11,8% berusia 14 tahun ke bawah. Data sensus menunjukkan populasi usia produktif (15-64 tahun) tercatat menurun 0,9% periode 2020-2021.
Terus kenapa ya perempuan Korea Selatan cenderung memiliki sedikit anak, bahkan hanya satu?
Baca Juga: Hari Anjing Sedunia, Kenapa Pelihara Anjing Bisa Bikin Kita Bahagia?
Jawabannya, budaya kerja yang serba menuntut, upah yang stagnan, biaya hidup meningkat, dan harga rumah yang meroket. Mereka jadi tidak punya waktu, uang, dan kapasitas emosional untuk berkencan.
Perempuan di sana lebih mengutamakan karier di pasar kerja yang sangat kompetitif. Di sisi lain, budaya patriarki dan ketidaksetaraan gender masih ada.
Pemerintah pada akhirnya membuat program untuk mengatasi rendahnya tingkat kelahiran, seperti cuti melahirkan untuk ibu dan ayah, bahkan memperpanjang cuti berbayar untuk ayah.
Pria didorong untuk mengambil peran lebih aktif dalam pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
Terkini
-
Hidup Berpindah Mengikuti Hutan: Perjuangan Punan Batu Benau-Sajau Mempertahankan Ruang Hidup
-
Rampok Toko Emas Pakai Senpi Dinas, Briptu MZ Dipecat dari Polda Aceh
-
Sukses Mulia Story: Ketika Mimpi Besar Menjadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan
-
Diiringi Lagu Glenn Fredly, Delvis Rettob Dinobatkan sebagai Ketua Presidium PP PMKRI
-
522 Anak dan Remaja Hidup dengan HIV di Sidoarjo, Pentingnya Memahami Angka dan Mencegah Stigma
-
Bupati Pemalang Kena OTT, Jadi Operasi Tangkap Tangan KPK ke-18 Sepanjang 2026
-
Sayembara Tangkap Begal Dedi Mulyadi Dinilai Disfungsional, Terkesan Tak Percaya Polda Jabar
-
Rumah Sakit Jepang Seperti di Zona Perang, Kewalahan Obati Korban Gempa Bumi Kumamoto
-
Review Buku Anything, Kisah Hangat Tentang Arti Sebuah Rumah
-
Pembangunan Pipa Gas di Dusem Bakal Perkuat Ketahanan Energi dan Gerakkan Ekonomi Masyarakat