/
Rabu, 31 Agustus 2022 | 10:48 WIB
Perayaan Sekaten akan kembali digelar setelah ditiadakan selama 2 periode. (Indotnesia)

Indotnesia - Pasar Rakyat Sekaten Yogyakarta akan kembali hadir setelah dua tahun tidak diselenggarakan. Rencananya, Sekaten akan berlangsung selama 16 September - 16 Oktober 2022.

Sebelumnya, Sekaten rutin diadakan tiap tahun untuk memperingati Mulud atau Maulid Nabi Muhammad di Keraton Yogyakarta. Acara utamanya yaitu Grebeg Maulud dengan mengiring-iringkan sejumlah gunungan yang berisi kebutuhan pangan untuk kemudian diperebutkan rakyat.

Perayaan ini pun turut dimeriahkan dengan adanya pasar malam Sekaten yang berlangsung selama 40 hari. Karena itu, pesta rakyat ini selalu dinanti-nanti oleh masyarakat Jogja.

Setelah ditiadakan selama dua tahun karena pandemi, Sekaten akan digelar  kembali. Namun, tak seperti sebelumnya, kali ini Pasar Rakyat Sekaten 2022 akan berlangsung di lahan bekas Kampus STIEKER Yogyakarta atau berada di Jalan Parangtritis KM 3, Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul.

Sejarah Singkat Perayaan Sekaten

Seperti disebutkan sebelumnya, Sekaten adalah perayaan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad.

Mengutip dari Wikipedia, perayaan Sekaten bermula sejak masa kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa dalam menyebarkan agama melalui kesenian gamelan. Dengan menggunakan gamelan, masyarakat Jawa tertarik untuk menghadiri dan mendengarkan.

Dalam sebuah penelitian di laman Pemprov Jogja, upacara tradisional ini dilangsungkan selama 7 hari, yaitu dari tanggal 5 – 11 Bulan Mulud atau Rabiul Awal. Selain itu, upacara ini juga memiliki beberapa tahapan.

Pada tanggal 5 Rabiul awal, mulai pukul 16.00 - 23.00 WIB gamelan mulai dibunyikan sebagai pertanda dimulainya upacara Sekaten. Lalu setelah pukul 23.00 WIB, gamelan dipindahkan ke pagongan di halaman Masjid Besar.

Baca Juga: 8 Film Dokumenter Netflix tentang Misteri Pembunuhan yang Sulit Dipecahkan

Selama di pagongan, gamelan sekaten dibunyikan pada siang dan malam hari, kecuali di waktu salat. Selanjutnya,  Sri Sultan bersama pengiringnya datang ke serambi Masjid Besar untuk mendengarkan pembacaan riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan tanggal 11 Rabi’ul Awal mulai pukul 20.00 – 23.00 WIB.

Tahap terakhir, yaitu pengembalian gamelan dari halaman Masjid Besar ke Keraton, yang dilakukan setelah upacara pembacaan riwayat kelahiran nabi.

Lalu, acara puncak dari upacara tradisional ini dilakukannya tradisi Grebeg Mulud yang diadakan tanggal 12 Rabiul Awal mulai pukul 08.00 – 10.00 WIB. Tradisi ini akan ada dikawal bregodo atau prajurit keraton.

Sementara, gunungan yang berisi makanan, dan buah-buahan serta sayur-sayuran itu dibawa dan dikawal mulai dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Tradisi ini biasanya turut dihadiri masyarakat sekitar maupun wisatawan yang memang ingin melihat upacara ini.

Dua hari sebelum Grebeg Maulud, ada tradisi Numplak Wajik yang dilangsungkan di halaman istana Magangan pada sore hari. Tradisi ini berupa kotekan atau permainan lagu dengan memakai kentongan, lumpang, dan semacamnya.

Lagu-lagu yang dimainkan yaitu lagu Jawa, seperti Lompong Keli, Tundhung Setan, Owal awil, atau lagu-lagu rakyat lainnya. Tradisi ini juga tak kalah menarik untuk disaksikan.

Load More