Indotnesia - Hari ini, Google Doodle menampilkan sosok pria berpeci dan berkacamata yang tampil pada halaman buku. Dia adalah Raja Ali Haji atau Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad.
Dia merupakan seorang, ahli sejarah, pujangga, penyair, dan Bapak Bahasa Indonesia. Dia mendapat gelar sebagai Pahlawan nasional pada 10 November 2004. Lalu, bagaimana Raja Ali Haji bisa mendapat julukan Bapak Bahasa Indonesia?
Melansir situs Kemdikbud, Raja Ali Haji lahir di Selangor pada 1809, walau sebagian menyebut dia lahir di Penyengat pada 1803. Tahun kematiannya pun juga menjadi perdebatan.
Namun, sebagian besar meyakini, ia meninggal di Penyegat, Kepulauan Riau, pada 1972. Dia merupakan cucu dari Raja Haji Fisabilillah, yang juga bergelar Pahlawan Nasional.
Raja Ali Haji mendapat gelar Yang Dipertuan Muda di Kesultanan Riau Lingga. Dia memperoleh pendidikan yang layak seperti halnya anak-anak lain di istana.
Dia pun meningkatkan kemampuan literasinya. Bahkan dalam perjalanan ke Batavia dan Mekkah, Raja Ali Haji menuangkan pengalamannya dalam karyanya Tuhfat Al-Bafs.
Ia bahkan bersahabat dengan Hermann Von De Wall, seorang pekerja pemerintahan Hindia-Belanda yang bertugas menyusun kamus Bahasa Melayu-Belanda.
Raja Ali Haji membuktikan dirinya bukanlah seorang penulis Islam yang membenci Belanda. Dia merupakan guru alim yang bertekad untuk memajukan bahasa Melayu.
Dia menurunkan ego keningratannya dengan bekerja dan dibayar oleh Belanda. Bersama Von De Wall, ia berbagi minatnya terhadap Bahasa Melayu.
Baca Juga: 5 Fakta Konser NCT 127 yang Dihentikan Polisi, Netizen Ungkap Biang Rusuh
Raja Ali Haji mengumpulkan naskah-naskah Melayu Kuno bersama beberapa orang juru tulis yang ia bayar untuk menyalin kata-kata. Pemikirannya makin maju dengan menyatakan pentingnya mesin cetak untuk berhemat.
Proses penyalinan dengan tenaga manusia tentu saja lebih melelahkan dan butuh waktu lama sehingga membuat biaya penyalinan sangat mahal.
Raja Ali Haji menjadi penulis pertama kamus ensiklopedis bahasa Melayu ekabahasa berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa setebal 466 halaman pada 1858. Ia disebut sebagai penulis ensiklopedi pertama dalam bahasa Melayu-Indonesia.
Bahasa Indonesia kemudian ditetapkan sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Tak hanya terkenal dengan karya fenomenalnya Gurindam Dua Belas yang mengajarkan moral dalam hubungan sesama manusia dan manusia dengan Tuhan, ia juga melahirkan karya lain seperti Muqaddimah Fi Intizam (1887), Tsamarat Al- Muhimmah (1888), Tuhfat Al-Nafis (1865), Silsilah Melayu dan Bugis (1866), Tawarikh al-Sughra, Tawarikh al-Wusta, Tawarikh al-Kubra, dan syair-syair lainnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
Terkini
-
Robot Mobo Siap Menjadi Anggota Keluarga Baru Berbasis Kecerdasan Buatan
-
Hingga Triwulan II 2026, BRI Kantongi Laba Rp31,2 Triliun dan Dorong Kredit UMKM
-
Ekonomi Kerakyatan Terus Digerakkan, BRI Kantongi Laba Rp31,2 Triliun
-
BRI Cetak Laba Rp31,2 Triliun di Triwulan II 2026, Kredit UMKM Capai Rp1.235,4 Triliun
-
Cara Menghitung Panjang Sisi Persegi Jika Hanya Diketahui Kelilingnya, Lengkap dengan Soal
-
KPR dan KKB Naik Daun, Begini Rapor Keuangan BBRI hingga Juni 2026
-
Sunscreen Viva Bisa Mencerahkan? Cek Klaim Resmi dan Review Pengguna
-
Grand Canyon Banjir Bandang Sapu Infrastruktur Park Service, 20 Pendaki Hilang
-
Awas, Jantung Bisa Jebol! Ini Bahaya Nyata Begadang Buat Kamu yang Sering Doom Scrolling
-
Dorong Ekonomi Kerakyatan, BRI Catat Laba Rp31,2 Triliun hingga Semester I 2026