- Ray Rangkuti memperingatkan bahwa kualitas praktik represif saat ini memiliki dampak yang setara dengan era Orde Baru.
- Pemerintah diduga melakukan pembungkaman opini sistematis melalui pembatalan acara publik dan kriminalisasi terhadap pemikiran serta karya seni.
- Strategi represif kini bertransformasi menjadi serangan buzzer digital dan stigmatisasi lawan politik dengan label antek-antek asing.
Suara.com - Pengamat Politik Ray Rangkuti memperingatkan publik untuk tidak terlena dengan klaim bahwa situasi demokrasi saat ini masih aman.
Meski secara kuantitas gejala represif dinilai baru mencapai angka 30 persen dibandingkan era Orde Baru, namun secara bobot dan kualitas, dampak yang dihasilkan bisa setara.
"Oleh karena itu cara lihatnya bukan cara lihat kuantitas. Oh, ini masih 30 masih aman, no. 30 ini bisa kualitas dan bobotnya itu sama," ujar Ray Rangkuti dalam kanal Youtube Forum Keadilan TV, Minggu (31/5/2026).
Ray menegaskan bahwa angka 30 persen tersebut tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia melihat pola-pola pembungkaman opini sudah mulai bekerja secara sistematis melalui berbagai pembatalan acara publik.
Ia juga memaparkan beberapa fakta di lapangan yang menurutnya menjadi indikator kuat kembalinya gaya represif pemerintah. Salah satunya adalah upaya mengkriminalisasi pemikiran dan karya seni.
"Gejalanya sudah ada di 30 misalnya menyebut pidato Saiful Mujani itu adalah makar. Itu gejala-gejala ya, pemutaran film Pesta Babi ya dibatalkan di mana-mana karena alasan mengancam stabilitas atau mencatat keharmonisan satu daerah. Jadi secara umum ginilah, model pembubaran sudah mulai terjadi," jelasnya.
Selain pembubaran acara, Ray menyoroti tiga hal krusial, yaitu pengawasan ketat terhadap pidato-pidato kritis, menguatnya peran TNI di wilayah sipil, serta adaptasi cara kerja represi ke ranah digital.
Jika dulu penguasa menggunakan kekerasan fisik, kini serangan dilakukan melalui pengeroyokan opini di media sosial.
"Misalnya sekarang, sekarang ada yang baru yang yang disebut dengan serangan buzzer itu, kalau dulu kan memang enggak ada buzzer, tapi keluarga kita langsung didatangin. Langsung mendatangi dikeroyok secara fisik,” ungkap Ray.
Baca Juga: Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
Menariknya, Ray melihat ada kemiripan pola dalam pemberian stigma buruk kepada pihak yang kritis terhadap pemerintah.
Jika pada era Orde Baru lawan politik dicap sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI), kini label tersebut berubah menjadi "antek-antek asing".
"Sekarang ini kan juga terjadi dengan istilah antek-antek asing ya kan, dulu PKI yang lawan pemerintah PKI gitu, sekarang antek-antek asing,” sebut Ray.
Menurutnya, penggunaan buzzer dan stigmatisasi "antek-antek asing" ini bertujuan untuk mendelegitimasi opini-opini kritis yang sebenarnya mengandung kebenaran, sebuah strategi yang secara substansi sangat mirip dengan apa yang terjadi di masa lalu. (Reporter: Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Agenda Keliling Indonesia Jokowi, Pengamat Nilai Ada Target Politik 2029
-
'Kartu Mati' MK untuk Parpol: Mengapa Keterwakilan 30 Persen Perempuan Kini Jadi Syarat Wajib?
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
Terkini
-
Terduga Pembunuh Wanita Muda di Hotel Kebayoran Baru Ditangkap
-
Gugur Gunung Tandang Gawe, Saat Wayang Bicara Soal Kriminalisasi dan Ketimpangan Sosial
-
Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni, PSI Sebut Antusiasme Warga Tinggi
-
Buntut Aksi Anarkis Viral di Tol JORR, Sopir Taksi Online Diciduk Polisi di Ciputat
-
Skandal WO Marwah: 58 Calon Pengantin Tertipu, Total Kerugian Tembus Rp2,6 Miliar
-
Tak Perlu Tunggu 32 Tahun, Ray Rangkuti Ungkap Alasan Rezim Sekarang Lebih Cepat Digoyang
-
Gagal 'Pelaminan', Pasutri Pemilik WO Marwah Kini Berakhir di Sel Tahanan
-
Prabowo Diminta 'Pensiun' Keliling Dunia, Saatnya Oper Misi Diplomatik ke Menlu Sugiono
-
Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'
-
Pakar Sebut Hakim PN Jakpus Bisa Kabulkan Gugatan LCC Empat Pilar MPR, Jadi Terapi Kejut