Indotnesia - Libur Lebaran, mudik, bertemu sanak saudara, dan silaturahmi, tapi kok malah merasa sedih dan lelah banget? Mungkin kamu sedang mengalami holiday blues. Bagi sebagian orang, libur panjang justru tidak membawa kebahagiaan.
Lalu, apa itu holiday blues?
Melansir Very Well Mind, holiday blues atau holiday depression adalah perasaan sedih yang berlangsung sepanjang musim liburan.
Liburan yang biasanya dipandang sebagai kegembiraan justru membuat penderita holiday blues menjadi momentum yang menyedihkan, mengalami kesepian, kecemasan, dan depresi.
Menurut National Alliance on Mental Illness (NAMI), sebanyak 64% orang dengan penyakit mental melaporkan libur panjang memperburuk kondisi mereka. Makanya, orang dengan kondisi kesehatan mental sebelumnya lebih rentan mengalami holiday blues.
Berikut gejala-gejala seseorang mengalami holiday blues:
- Perubahan nafsu makan atau berat badan
- Perubahan pola tidur
- Suasana hati yang tertekan atau mudah tersinggung
- Sulit berkonsentrasi
- Perasaan tidak berharga atau merasa bersalah
- Merasa lebih lelah dari biasanya
- Merasa tegang, khawatir, atau cemas
- Kehilangan kesenangan dalam hal-hal yang biasa dinikmati
Ada beberapa hal yang memicu seseorang mengalami holiday blues, seperti kurang tidur, makan berlebihan, tekanan finansial, kesepian, dan ekspektasi yang tidak realistis.
Untuk mengatasi holiday blues, kamu bisa memulainya dengan tidak mengisolasi diri. Tapi masalahnya, kesedihan kerap bikin kamu ingin bersembunyi sendiri di rumah.
Tapi, kalau kamu sendirian dan terpisah dari keluarga, maka mencari dukungan sosial bisa menjadi lebih sulit. Kalau pun kamu nggak bisa pulang atau mudik, carilah cara untuk dapat menikmati hubungan sosial, misalnya menjadi relawan.
Baca Juga: Centang Biru Jalur Prestasi Distop, Segini Tarif Berlangganan Twitter Blue
Selain itu, cobalah untuk berolahraga rutin karena aktivitas fisik yang reguler penting untuk mencegah dan mengurangi gejala depresi. Selanjutnya, nikmati waktumu sendiri setidaknya 15-20 menit sehari untuk membaca buku, mendengarkan musik, yoga, berendam atau mandi, atau aktivitas lain yang menenangkan.
Cobalah untuk menyusun ekspektasi yang lebih realistis. Pahami kalau liburan panjang nggak harus sempurna, tapi lebih berarti dan mengena dalam ingatan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Emil Audero dan Jay Idzes Saling Roasting Soal Pencapaian Karier
-
Ngeri! Bahas Fungsi Helm, 6 Fakta Petugas Damkar Khairul Umam Diancam Tak Selamat Sampai Lebaran
-
5 Resep Kue Kering Lebaran Tanpa Oven yang Praktis Dibikin di Rumah
-
Masih Optimis Juara, Tammy Abraham Peringatkan Arsenal dan Manchester City
-
PDIP Kritik RI Gabung Board of Peace Tanpa Persetujuan DPR, Singgung Biaya 8.000 Pasukan
-
Pesan Suara Misterius Menjelang Berbuka
-
Hitung-hitungan Timnas Futsal Putri Indonesia Lolos ke Semifinal AFF 2026
-
Manufaktur dan Pertanian Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
-
Tawarkan Paket Buka Puasa, Restoran Nonhalal di Semarang Tuai Kecaman
-
8 Fakta Dibalik Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di Sekolah Yogyakarta