/
Jum'at, 31 Maret 2023 | 12:35 WIB
Pendukung salah satu bakal calon lurah protes bawa senjata tajam (Instagram)

Suara Joglo - Pilihan kepala desa di Kabupaten Bangkalan Madura memang rawan konflik. Banyak peristiwa bentrokan warga dalam kontestasi pemilihan lurah ini. Masih ingat peristiwa carok massal yang menewaskan 8 orang pada 2006 silam? Peristiwa itu juga terkait pilkades.

Nah, rencananya Bangkalan bakal menggelar pilkades serentak pada Mei 2023 nanti. Saat ini tahapan pilkades sudah masuk seleksi calon. Pada tahapan ini, setidaknya sudah tiga insiden mewarnainya. Satu peristiwa bahkan membuat geger, yakni peristiwa pembacokan.

Berikut ini 3 insiden yang mewarnai Pilkades di Bangkalan Madura:

1. Viral bentrok dua kubu pendukun bakal calon kades 

Pilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak bakal digelar warga Pulau Madura, Mei 2023 nanti. Namun panasnya persaingan antar bakal calon dan berbagai persoalan yang muncul di masa tahapan pencalonan ini sudah terasa sejak beberapa waktu belakangan ini.

Masih ingat kasus berdarah pembacokan terhadap seorang anggota staf pemilihan bernama Ridoi (37)? Ia dianiaya oleh salah satu bakal calon kepala desa di Desa Manggaan Kecamatan Modung Kabupaten Bangkalan Madura. Ia dibacok hingga menderita luka serius pada tubuhnya.

Pelaku pembacokan bernama Samsul (50) yang merupakan salah satu bakal calon Kepala Desa Manggaan. Motifnya, pelaku sakit hati karena tidak lolos verifikasi dalam proses pencalonan kades setempat. Peristiwa ini terjadi pada 17 Maret 2023 lalu.

2. Pembacokan panitia pemilihan

Peristiwa lain terjadi di Desa Kanegara Kecamatan Konang, juga di Kabupaten Bangkalan. Dua kelompok massa terlibat ketegangan dan nyaris bentrok. Salah satu kubu ini merupakan pendukung bakal calon kades yang digugurkan oleh panitia seleksi.

Baca Juga: Punya Empat Anak, Jennifer Bachdim Ungkap Cara Agar Tak kena Baby Blues

Tak terima calonnya digugurkan, kedua kelompok massa kemudian melakukan protes. Pendukung calon kades yang gugur itu mendatangi balai desa, dan diadang oleh pendukung calon incumbent. Kejadian itu sempat viral di media sosial. 

Dalam video yang beredar di media sosial itu, warga dari kubu yang tidak lolos meluruk kantor desa dan menemui Panitia Pemilihan Kepala Desa (P2KD) sambil membawa senjata tajam (Sajam) celurit.

3. Demo di Desa Morombuh

Di tempat lain, Desa Morombuh, peristiwa serupa juga terjadi. Sejumlah warga mendatangi kantor Panitia Pemilihan Kepala Desa (P2KD). Penyebabnya karena bakal calon kepala desa yang didukung warga ini digugurkan oleh panitia.

"Dari nilainya itu tertinggi tapi kenapa digugurkan sepihak tanpa alasan yang jelas. Mereka bahkan menghilangkan skor untuk variabel pengalaman pemerintah calon kami," kata perwakilan warga bernama Abdurrahman Tohir, Kamis (30/3/2023).

Ia menjelaskan, sejak awal calon yang didukungnya yakni Muhammad Imron telah mengikuti seluruh tahapan yang ada. Seluruh syarat juga sudah dipenuhi. Anehnya, setelah nilai uji kompetensi keluar, Imron dianggap gugur.

Load More