Kasus penganiayaan yang melibatkan anak polisi bernama Aditya Hasibuan dan ayahnya, Achiruddin Hasibuan memasuki peyidikan lanjutan.
Aditya, tersangka pemukulan mahasiswa bernama Ken Admiral terancam dengan hukuman penjara paling lama lima tahun jika terbukti bersalah.
Polda Sumatera Utara kembali melakukan pemeriksaan kepada tujuh saksi baru. Satu di antaranya saksi ahli dari dokter dan juga rekan korban SH yang saat itu terakhir berkomunikasi dengannya.
"Ada tambahan pemeriksaan saksi sebanyak enam saksi dan juga satu saksi ahli atau dokter. Total keseluruhan saksi yang diperiksa berjumlah 23 saksi," kata Dirreskrimum Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Sumaryono, Sabtu (29/4/2023).
Satu saksi yang diperiksa adalah SH rekan perempuan Ken Admiral yang sebelumnya berkomunikasi dengan korban.
Sumaryono menjelaskan dari pemeriksaan para saksi itu, sudah cukup untuk memenuhi unsur pidana terhdap Pasal 351 ayat 2 untuk tersangka.
Di mana Pasal 351 ayat 2 berbunyi "Jika perbuatan menjadikan luka berat, pelaku atau yang bersalah dihukum penjara paling lama lima tahun".
Polda Sumut juga sudah memeriksa Ken Admiral secara daring menyusul keberadaan korban yang tengah berada di Manchester, Inggris untuk melanjutkan kuliah.
Di sisi lain, ayah Aditya, Achiruddin Hasibuan yang dalam video viral tersebut hanya membiarkan tersangka melakukan penganiayaan Ken Admiral sedang dalam pemeriksaan oleh Propam Polda Sumut.
Baca Juga: CCTV Rusak, Polda Sumut Cari Rekaman Kejadian Penganiayaan oleh Anak Polisi di Sekitar TKP
"Kita akan cari tahu hasil asesmen karakteristik AKBP (Achiruddin) ini. Nanti kita dalami lebih lanjut untuk kepentingan penyidikan. Saat ini belum bisa kami sampaikan," kata Sumaryono.
Kasus penganiayaan oleh anak polisi di Medan, menjadi viral dan tersebar di media sosial. Kasus tersebut sebenarnya terjadi pada 2022 lalu.
Meski telah dilaporkan, kasus tersebut tak mendapat atensi lebih dari Polda Sumut. Sehingga viralnya potongan video penganiayaan itu baru membuat polisi mengusut kasusnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
Terkini
-
Transformasi Gerai Donat: Menu Makin Variatif dan Punya Teknologi Self-Ordering
-
ILUNI UI Soroti Risiko Hukum di Balik Transformasi BUMN: Era Baru, Tantangan Baru
-
Belanja Hemat April 2026: 17 Produk Indomaret Diskon Besar, Ada yang di Bawah Rp10 Ribu
-
Dari Elit BUMN ke Viral di Tikungan Maut, Siapa 3 Komisaris Pusri? Ada Arteria Dahlan
-
Laga Hidup Mati di GOR Jatidiri: Siapa yang Akan Melaju ke Puncak Proliga 2026?
-
Bogor Diguyur Hujan Lebat, Bendung Katulampa Masih Aman di Level Siaga 4
-
Sebut Uang yang Disita Tabungan Arisan Istri, Ono Surono Buka Suara Soal Kasus Suap Bekasi
-
H-7 Keberangkatan, Pemerintah: Persiapan Haji 2026 Hampir Rampung 100 Persen
-
Dari Layar Kaca ke Lapangan: Ambisi Eberechi Eze Wujudkan Mimpi Liga Champions di Arsenal
-
Kasus Pelecehan Seksual FH UI: Bukti Dunia Pendidikan Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja?