Kotak Suara / Pemilu
Kamis, 02 Februari 2023 | 15:57 WIB
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (tengah) berjalan meninggalkan ruangan usai memimpin Penutupan Rakernas II PDIP di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (23/6/2022). (Antara)

Suara.com - PDI Perjuangan terbuka dengan harapan Gerindra yang ingin partai-partai tetap membuka pintu untuk kemudian guyub di satu koalisi besar.

Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Sadarestu memandang apa yang menjadi harapan Gerindra bukan hal mustahil. Peluang menuju ke arah sana juga memungkinkan.

"Yang namanya politik itu semuanya serba mungkin. Tidak ada politik itu saat ini juga masih sangat cair," kata Sadarestu di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (2/1/2023).

Termasuk apabila partai-partai pendukung pemerintahan Jokowi saat ini bergabung kembali, melakukan reuni untuk berkoalisi bersama di 2024, PDIP membuka peluang tersebut.

"Ya iya lah tentunya (terbuka untuk reunian)," kata Sadarestu.

Tetapi diakui Sadarestu, PDIP belum sampai melakukan pembahasan ke arah koalisi besar hasil reunian partai pendukung pemerintahan Jokowi.

"Kalau itu, saya belum, belum pernah ada pembahasan," ujarnya.

Walau PDIP membuka diri dengan segala dinamika yang ada ke depan, tetapi ditegaskan Sadarestu, semua keputusan baik berkaitan dengan koalisi maupun pemilihan capres dan cawapres akan diputuskan Ketua Umun Megawati Soekarnoputri.

Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Sadarestu. (Suara.com/Novian)

"Kembali lagi bahwa yang begitu itu sudah menjadi, itu nanti dari ibu ketua umum karena hak prerogatif ada di ibu ketua umum sebagai penentu tentunya," kata Sadarestu.

Baca Juga: Bukan Soal Dukungan Anies, Hasan Hasbi Ungkap 3 Ganjalan Koalisi Perubahan yang Belum Terselesaikan

Pernyataan Gerindra

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman berharap semua partai politik masih membuka pintu lebar untuk melebur dalam satu koalisi besar. Walaupun saat ini diketahui sudah ada sejumlah partai yang mendeklarasikan koalisi.

Pernyataan Habiburokhman menanggapi kunjungan NasDem ke beberapa partai politik. Mulai dari ke Sekretariat Bersama (Sekber) Gerindra-PKB pada pekan kemarin dan terbaru kunjungan NasDem ke DPP Partai Golkar pada Rabu (1/2).

"Ya kami berharap lah semua pintu masih terbuka ya, kita pengin, kami juga pengin koalisi yang besar tidak hanya Gerindra-PKB, juga melibatkan pihak-pihak lain," kata Habiburokhman di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (2/2/2023).

Sementara itu, terkait kunjungan NasDem ke Golkar, Habiburokhman menilai hal itu merupakan langkah yang bagus. Di mana parpol-parpol saling bertemu, kendati saat ini berada di koalisi berbeda untuk Pilprea 2024.

"Ke depan kita mengedepankan politik yang tidak perpecahan. Boleh nanti berbeda atau awalnya berbeda nanti bisa sama. Tetapi yang jelas kerukunan harus dijaga," kata Habiburokhman.

Menurut Habiburokhman semua peluang masih bisa terjadi, termasuk yang hari ini berbeda pandangan politik ke depan bisa sama. Apalagi saat ini Pilpres 2024 masih berjarak satu tahun sehingga dinamika masih akan terus terjadi. Pendaftaran capres dan cawapres juga masih beberapa bulan ke depan.

"Hampir nggak ada ceritanya koalisi itu fix di waktu sejauh ini. Apalagi setelah format pemilihan langsung saat ini yak, hitung-hitungannya pasti tentu kudu matang," kata Habiburokhman.

Peluang Merger Sejumlah Koalisi

Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani menilai memang masih ada kemungkinan partai-partai bersatu di dalam satu koalisi besar.

Pernyataan Arsul menyusul penilaian Sandiaga Uno yang menganggap ada potensi partai-partai bersatu di satu koaliai. Termasuk bersatu ke koalisi Gerindra dan PKB. 

Arsul menegaskan saat ini PPP sudah berkoalisi bersama Partai Golkar dan PAN. Tetapi ia mengakui bahwa semua kemungkinan masih terbuka.

"Tentu dalam konteks dinamika politik maka ada kemungkinan-kemungkinan yang terbuka seperti bersatunya koalisi-koalisi atau parpol-parpol dalam koalisi yang lebih besar," ujar Arsul dihubungi, Selasa (24/1/2023).

Termasuk bergabungnya dua koalisi, yakni KIB dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya atau koalisi Gerindra-PKB.

"Tetapi masih terlalu dini untuk berspekulasi bahwa KIB akan 'merge' dengan Koalisi KIR. Meski tidak ada yang tertutup. Kita akan sama-sama tunggu dinamika ke depan," kata Arsul.

Apabila dua koalisi itu bersatu, hal tersebut menandakan adanya kemungkinan reuni partai-partai pendukung pemerintah Jokowi-Maruf Amin, yang tergabung di Koalisi Indonesia Maju.

Reuni koalisi pemerintahan bisa saja terjadi pada Pilpres 2024. Mengingat partai-partai yang tergabung di dalamnya sudah memiliki pengalaman bersama.

"Kalau bicara faktor pendorong maka sejumlah hal bisa menjadi faktor pendorong, termasuk kebersamaan yang sudah terbangun dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Kiai Maruf Amin," kata Arsul.

Diketahui, dari semua partai di koalisi pemerintah saat ini, hanya ada NasDem dan PDI Perjuangan yang belum menentukan berkoalisi.

NasDem kendati sedang penjajakan koalisi dengan PKS dan Partai Demokrat, tetapi hingga kini belum mendeklarasikan koalisi. Sedangkan PDIP yang memiliki tiket mengusung calon presiden dan calon wakil presiden sendiri juga belum memutuskam akan berkoalisi atau memilih sendirian.

Lantas apakah nantinya NasDem, termasuk PDIP akan diajak jika KIB dan Gerindra-PKB bergabung di satu koalisi besar? Arsul menilai makin banyak makin bagus.

"Kebersamaan itu kalau terulang buat saya akan lebih baik," ujar Arsul.

Tetapi sebelum masuk ke peluang bersatunya koalisi-koalisi, Arsul mengatakan perlu ada pembicaraan tentang kesamaan pandang. Belum lagi terkait permasalaham kandidat calon presiden dan calon wakil presiden yang hendak diusung.

"Salah satu yang paling krusial dalam koalisi selain menentukan platform maka siapa-siapa yang akan menjadi kandidat paslon Pilpres juga akan turut menentukan komposisi koalisi finalnya nanti," ujar Arsul.

Sandiaga sebelumnya menilai bukan hal mustahil akan banyak partai yang memilih bergabung berkoalisi bersama Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Bahkan menurut Sandiaga, tidak menutup kemungkinan juga Partai Persatuan Pembangunan maupun partai lainnya bergabung.

Hal itu disampaikan Sandiaga menanggapi pernyataan apabila PPP mencalonkan namanya di Pilpres 2024. Ia Sendiri tidak menjawab hal ini. Adapun PPP saat ini tergabung bersama Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) di Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

"Ya kan ini nggak menutup kemungkinan akan bergabung semua ke sini kan," kata Sandiaga di Sekretariat Bersama (Sekber) Gerindra-PKB di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (23/1/2023).

Kemungkinan itu terjadi lantaran Sandiaga percaya kondisi politik saat ini masih sangat dinamis. Terlebih waktu menuju pelaksanaan Pilpres masih satu tahun mendatang.

Sementara diakui Sandiaga, politik terkadang memberikan langkah kejutan di akhir waktu.

"Jadi politik itu kan selalu last minute, politik itu selalu cair dan dinamis," ujarnya.

Load More